Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii menegaskan bahwa wajah agama Islam pertama kali dilihat publik melalui keteladanan, kesabaran, dan ketulusan para amil, penghulu, hingga penyuluh agama yang melayani di garis depan.
Hal tersebut disampaikan Wamenag dalam kegiatan “Jejak Amil” yang melibatkaan para amil se-Kabupaten Bogor di Masjid Agung Baitul Faizin, Sabtu (18/7/2026).
Dalam arahannya, Romo Syafii mengajak para aparatur Kementerian Agama (Kemenag) untuk merefleksikan kembali esensi pengabdian mereka. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap instansi tersebut tidak dibangun oleh kemegahan gedung atau kerapian regulasi, melainkan dari perjumpaan sederhana saat masyarakat mendapatkan solusi atas persoalan hidup mereka.
“Ketika orang mencari solusi persoalan agama, yang pertama mereka temui adalah aparat kita. Karena itu, jadilah tokoh yang benar-benar mencerminkan nilai agama,” ujar Romo Syafii.
Ia juga mengingatkan bahwa posisi sebagai pelayan agama memikul tanggung jawab moral yang berat di mata publik. Warga cenderung menuntut kesempurnaan sikap dari para aparatur keagamaan.
“Bapak-Ibu ini sangat dimuliakan masyarakat. Kalau berbuat baik, orang menganggap itu sudah semestinya. Namun ketika melakukan kesalahan, masyarakat langsung mempertanyakan, karena dinilai tidak pantas dilakukan oleh orang agama,” tuturnya.
Merujuk pada Surah At-Taubah ayat 111, Romo Syafii menekankan bahwa fondasi utama dari seluruh pelayanan ini adalah keikhlasan. Ia menjelaskan tiga ciri nyata aparatur yang ikhlas: kehadirannya mampu mengingatkan orang lain kepada Allah, senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian sebagai bagian dari akhlak, serta setiap ajakannya mudah diterima karena lahir tanpa tendensi pencitraan.
Di tengah acara, suasana sempat menghening saat Wamenag membagikan kisah personalnya. Ia mengenang masa kecilnya saat berjalan kaki ke masjid untuk belajar mengaji, hingga pengalamannya bertahun-tahun mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an tanpa memungut bayaran. Pengalaman panjang itu membuktikannya bahwa pengabdian yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
Menutup pertemuannya, Romo Syafii berpesan bahwa kemuliaan seorang amil maupun penyuluh tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kesetiaan menjaga amanah umat.
“Jadilah orang-orang yang ikhlas. Mungkin tidak terkenal di bumi, tetapi dikenal di langit. Ketika itu terjadi, pertolongan Allah akan datang pada waktu yang tidak pernah kita sangka,” pungkasnya. (*/tim)
