4 Makna Hijrah Bagi Peradaban Umat dan Bangsa

4 Makna Hijrah Bagi Peradaban Umat dan Bangsa
www.majelistabligh.id -

Menjelang datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr Sholohin Fanani, MPSDM menyampaikan khotbah Jumat bertema Hijrah untuk Membangun Peradaban Umat dan Bangsa, Jumat (12/6/2026). Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi momentum strategis dalam membangun fondasi peradaban Islam yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penting karena menandai dimulainya fase baru perjuangan dakwah Islam yang lebih terorganisir dan berdampak luas bagi kehidupan umat manusia.

Makna pertama dari hijrah, menurut Abah Shol adalah dimensi spiritual. Hijrah merupakan bentuk ketaatan total kepada perintah Allah SWT dalam menyebarkan risalah Islam. Ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 218 yang menegaskan bahwa orang-orang beriman yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa hijrah adalah jalan menuju peningkatan kualitas keimanan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hijrah Nabi Muhammad SAW bukanlah upaya mencari keuntungan duniawi. Selama 13 tahun berdakwah di Makkah, jumlah pengikut yang diperoleh relatif sedikit. Namun, semangat dakwah tetap berlanjut karena dilandasi niat tulus untuk menyebarkan ajaran Islam, bukan kepentingan materi.

Makna kedua adalah dimensi moral. Hijrah membawa nilai-nilai luhur seperti tolong-menolong, saling menghargai, dan menjaga perasaan sesama manusia. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, nilai-nilai ini menjadi dasar penting untuk menciptakan harmoni sosial, termasuk dalam hubungan antarumat beragama.

Sementara itu, makna ketiga adalah dimensi sosial. Setibanya di Madinah, Nabi Muhammad SAW mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai langkah awal membangun masyarakat yang solid. Ia juga menjalin kesepakatan dengan kelompok di luar Islam untuk menciptakan kehidupan yang damai dan saling menghormati. Upaya ini menunjukkan pentingnya persatuan dan rekonsiliasi dalam kehidupan sosial.

Makna keempat adalah dimensi profesional. Hijrah juga menjadi awal penataan sistem kehidupan yang lebih terstruktur, termasuk dalam bidang ekonomi dan tata kelola masyarakat. Rasulullah SAW memperkenalkan sistem baitul maal serta mendorong umat untuk bekerja secara produktif dan profesional dalam membangun kesejahteraan bersama.

Di akhir khotbahnya, Dr Sholohin Fanani menegaskan bahwa nilai-nilai hijrah harus terus diimplementasikan dalam kehidupan modern. Bagi Muhammadiyah, hijrah dimaknai sebagai semangat pembaruan dalam dakwah, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Dengan mengamalkan nilai-nilai tersebut, ia optimistis kemajuan umat dan bangsa serta terciptanya perdamaian dunia dapat terwujud. (m roissudin)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search