Sir‘atan wa Minhājan sebagai Jalan Qur’ani Mengelola Perbedaan

Sir‘atan wa Minhājan sebagai Jalan Qur’ani Mengelola Perbedaan
*) Oleh : Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

#Dari Perdebatan Identitas Menuju Perlombaan Kebajikan

Ada fenomena yang semakin sering kita jumpai dalam kehidupan sosial: masyarakat begitu mudah berdebat tentang identitas, tetapi semakin sulit duduk bersama menyelesaikan persoalan. Perbedaan pilihan keagamaan, organisasi, mazhab, bahkan cara berpakaian dapat menjadi bahan perdebatan panjang.

Di ruang digital, perbedaan tersebut bahkan dapat berubah menjadi saling sindir, pelabelan, dan pertengkaran terbuka. Yang menarik, pada saat yang sama, persoalan nyata di sekitar kita tidak pernah berhenti. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang lebih baik, keluarga miskin membutuhkan pemberdayaan, lingkungan membutuhkan perhatian, generasi muda menghadapi krisis kesehatan sosial dan moral, sementara masyarakat membutuhkan ruang dialog yang sehat.

Di sinilah kita perlu bertanya: mengapa energi sosial kita lebih banyak terkuras untuk memperdebatkan identitas daripada berlomba menghadirkan kemaslahatan?

Pertanyaan ini menemukan relevansinya dalam QS. Al-Mā’idah ayat 48. Allah SWT berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Dia hendak mengujimu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam kebajikan.”

Frasa syir‘atan wa minhājan menunjukkan adanya aturan dan jalan yang diberikan kepada manusia. Ayat ini kemudian mengarahkan manusia kepada fastabiqul khairāt: berlomba-lomba dalam kebajikan.

Pesannya menjadi sangat relevan ketika dibaca secara fenomenologis. Fenomenologi mengajak kita melihat realitas sebagaimana dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hidup dalam ruang teori. Mereka mengalami langsung bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan, tetapi juga dapat berubah menjadi konflik.

Di lingkungan keluarga, perbedaan pilihan kadang membuat hubungan renggang. Di masyarakat, perbedaan organisasi dapat membangun sekat. Di media sosial, perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan. Bahkan di lingkungan pendidikan, perbedaan perspektif terkadang tidak dikelola sebagai dialog intelektual, tetapi sebagai pertarungan identitas.

Persoalannya bukan semata-mata adanya perbedaan. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana perbedaan itu dikelola.

Secara sosiologis, identitas memberikan rasa memiliki. Manusia membutuhkan kelompok untuk memperoleh rasa aman, pengakuan, dan solidaritas. Karena itu, identitas bukan sesuatu yang harus dihapus. Yang perlu dihindari adalah ketika identitas berubah menjadi tembok sosial: kelompok sendiri dianggap selalu benar, sementara kelompok lain dipandang sebagai ancaman.

 

Tinggalkan Balasan

Search