Bangunan Sekolah Roboh, Semangat Para Siswa SDN 10 Linge Aceh Tetap Kokoh

Bangunan Sekolah Roboh, Semangat Para Siswa SDN 10 Linge Aceh Tetap Kokoh
www.majelistabligh.id -

Banjir bandang boleh merobohkan bangunan sekolah, tetapi tidak dengan semangat belajar anak-anak SD Negeri 10 Linge Aceh Tengah. Di tengah keterbatasan dan suasana pascabencana, semangat mereka untuk sekolah tetap kokoh. Setiap pagi, mereka dengan seragam sekolah, membawa buku, harapan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Kini, ruang belajar mereka bukan lagi bangunan permanen. Tenda darurat menjadi tempat baru bagi anak-anak untuk membaca, menulis, berhitung, dan menumbuhkan mimpi. Beralaskan terpal sederhana dan dengan fasilitas yang masih terbatas, proses belajar tetap berlangsung sebagai bentuk keteguhan bahwa keadaan sulit bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Bangunan Sekolah Roboh, Semangat Para Siswa SDN 10 Linge Aceh Tetap Kokoh
Tenda darurat sebagai pengganti gedung kelas yang roboh. (dok)

Bagi para guru dan orang tua, pemandangan ini bukan sekadar aktivitas belajar biasa. Ada pesan kuat yang tumbuh di balik setiap pertemuan di tenda darurat: bahwa pendidikan harus tetap hidup, bahkan ketika bencana datang menguji.

Dari Bencana Menuju Ketangguhan

Pasca banjir bandang yang melanda kawasan tersebut, bangunan SDN 10 Linge mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi memungkinkan digunakan. Setelah dilakukan kajian bersama, lokasi sekolah lama ditetapkan sebagai zona merah, sehingga pembangunan kembali di tempat yang sama tidak diperbolehkan karena dinilai memiliki risiko keselamatan.

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kemendikdasmen di Aceh Safran turun ke Linge bersama Khairul Hadi (kasubag Umum BPMP Aceh), Iskandar Muda Hasibuan(BGTK Aceh), Muhammad Kasman dan Dani (Direktorat SD), Zamzami (seknas SPAM), Ardhiansyah (Biro Umum), Andre dan Yahya (PKLP) bersama jajarannya.

Keputusan relokasi memang menjadi tantangan tersendiri, namun langkah itu dipandang sebagai investasi keselamatan dan masa depan anak-anak. Pemerintah bersama berbagai pihak kini berupaya memastikan bahwa sekolah yang akan dibangun nantinya tidak hanya lebih layak, tetapi juga aman dari potensi bencana.

“Di tengah proses tersebut, kegiatan belajar tetap dijalankan melalui tenda darurat yang difasilitasi untuk menjaga agar pendidikan tidak terputus,” ujar Safran.

Perjuangan Menempuh Jalan yang Tidak Mudah

Bukan hanya kehilangan ruang belajar, sebagian siswa juga menghadapi medan perjalanan yang lebih sulit. Jalan penghubung menuju lokasi belajar dari sejumlah kampung terdampak mengalami kerusakan akibat banjir, sehingga perjalanan ke sekolah membutuhkan usaha lebih besar dibanding sebelumnya.

Namun, semangat hadir untuk belajar tetap terlihat setiap hari. Guru, orang tua, dan masyarakat saling menguatkan agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, dan menjaga harapan.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung sekolah, melainkan tentang ketekunan, kepedulian, dan kerja bersama untuk memastikan generasi muda tetap memiliki kesempatan berkembang.

Harapan Baru Sedang Dipersiapkan

Di tengah tantangan yang ada, secercah kabar baik mulai memberi optimisme. Pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen menyatakan kesiapan dukungan anggaran untuk pembangunan sekolah baru bagi SDN 10 Linge.

Agar pembangunan dapat segera direalisasikan, pemerintah daerah kini tengah menyiapkan lokasi pengganti yang aman dari risiko bencana dan memiliki status hukum tanah yang jelas serta bebas sengketa (clear and clean). Ujar Zamzami dari Seknas SPAB Proposal relokasi juga sedang dipersiapkan untuk diajukan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Dana revitalisasi sudah siap dikucurkan. Syarat mutlaknya adalah Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah harus menyediakan lahan baru yang aman dari potensi bencana dan status hukum tanahnya harus bebas sengketa,” jelas Muhammad Kasman dari Direktorat SD.

Bagi anak-anak SDN 10 Linge, harapan itu sederhana namun bermakna besar: kembali belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan mampu menumbuhkan cita-cita. Diakhir wawancaranya Safran optimis harapan anak-anak Linge secepatnya menjadi kenyataan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search