Kita sebagai umat muslim yang mengikuti ajaran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapat legitimasi dari Allah sebagai umat terbaik di akhir zaman. Hal ini Allah sampaikan dalam surah Ali-Imran ayat 110,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran: 110)
Kedudukan umat muslim sebagai umat terbaik di akhir zaman merupakan privilase yang Allah berikan hanya kepada umat Muhammad. Dengan berbekal keimanan kepada Allah serta patuh dan taat atas ajaran Rasulullah, kita akan mendapat jaminan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Berbicara mengenai umat terbaik dengan banyak keistimewaan, tampaknya kita perlu melihat kilas balik sejarah. Bahwa di masa terdahulu, tersebutlah nama Bani Israil yang banyak tertulis dalam Al-Quran. Umat yang paling Allah istimewakan di antara umat-umat lain, Allah berikan banyak nikmat kepada mereka dan Allah tuntun langkah kaki mereka melalui petunjuk yang Allah turunkan kepada para nabi terdahulu.
Allah berfirman,
يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Al-Baqarah: 47).
Namun sayang beribu sayang, keistimewaan yang Allah berikan, tampaknya tidak menjadikan mereka tunduk atas perintah Allah, dan justru menjadikan mereka umat yang angkuh, sombong, dan keras kepala.
Perlu kita pahami, bahwa dibalik keistimewaan bani Israil, ada banyak faktor yang menjadikan mereka di kemudian hari menjadi umat terlaknat, sehingga Allah murka atas mereka. Beberapa sifat bani Israil di antaranya;
Menyembunyikan dan Menolak Kebenaran
Allah berfirman,
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146).
Kebenaran yang Allah kirim melalui para nabi-Nya yang diutus kepada bani Israil, tidak serta merta dapat diterima di hati mereka. Alih-alih menerima kebenaran itu dengan sepenuh hati, mereka justru meragukan kebenaran itu, apakah menguntungkan bagi mereka atau tidak.
Sifat ini di dasarkan pada hawa nafsu yang mendominasi diri mereka. Mereka hanya mementingkan kenikmatan duniawi, sehingga sesuatu yang tidak mendatangkan kepuasan dalam diri mereka, seketika mereka tolak dan tinggalkan.
Padahal dalam urusan meminta berbagai fasilitas kenikmatan dari Allah, mereka selalu meminta lebih. Seperti meminta keteduhan dalam perjalanan mereka setelah Allah selamatkan dari kejaran pasukan Firaun, meminta makanan yang berbeda, kemudian Allah berikan buah yang disebut manna dan salwa. Dan kejadian lain yang disebutkan dalam Al-Quran.
Penghianat dan Ingkar Janji
Allah berfirman,
أَوَكُلَّمَا عَٰهَدُوا۟ عَهْدًا نَّبَذَهُۥ فَرِيقٌ مِّنْهُم ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.” (Al-Baqarah: 100).
Bagi bani Israil, janji bukanlah perkara yang sakral. Bahkan janji yang mereka ikat atas tuhan mereka pun tidak segan-segan mereka ingkari, manakala janji yang mereka ikat akan memberikan dampak beban bagi mereka, padahal Allah adalah Tuhan yang maha menepati janji.
Bani Israil ketika berkata-kata dan mengumbar janji sangat meyakinkan sekali, seakan-akan mereka tidak akan mengingkarinya, namun nyatanya janji hanyalah sebatas kata. Jika ada hal yang bisa mendatangkan kepuasan bagi diri mereka, maka mengingkari janji dan menghianati amanah bukanlah hal yang berarti.
Pandai Membaca Kitab (Taurat). Namun Enggan Mengetahui Maknanya Dan Enggan Mengamalkannya (Ummiyyun)
Allah berfirman,
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 79).
Al-Kitab yang Allah turunkan kepada bani Israil melalui nabi merupakan sumber kebenaran yang pasti. Namun, karena sifat mereka yang selalu menolak kebenaran, menjadikan mereka menjadi umat yang buta. Alih-alih menyampaikan kebenaran yang tertulis dalam kitab mereka, mereka justru menyebarkan kedustaan dan dengan kerelaan hati mereka jual ayat-ayat Allah hanya demi keuntungan dunia semata.
Jalaluddin asy-Syututhi menyebutkan bahwa jumlah nabi ada 8000, separuh di antaranya yaitu 4000 diutus kepada bani Israil dengan membawa kebenaran melalui risalah-risalahnya. Namun kebenaran yang Allah datangkan melalui para nabi tidaklah memberikan dampak sedikit pun, justru mereka semakin angkuh dan keras kepala.
Masih banyak sifat-sifat bani Israil yang menjadi faktor datangnya murka Allah kepada mereka. Namun setidaknya dengan tiga sifat tersebut, kita dapat mengambil hikmah, bahwa keistimewaan yang Allah berikan kepada kita sebagai umat Islam perlu kita jaga betul-betul.
Karena selain nikmat, keistimewaan tersebut juga menjadi amanah sekaligus ujian bagi kita, sejauh mana kita bisa menjaga hati kita untuk selalu patuh dan taat atas perintahnya, dan sejauh mana kita rela menerima kebenaran yang datang dari Allah ta’ala. (*)
