Berfikir adalah Kewajiban, Bukan Pilihan

Berfikir adalah Kewajiban, Bukan Pilihan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan pengasuh kajian tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek
www.majelistabligh.id -

#Akal sebagai Anugerah Besar yang Menentukan Martabat Manusia

Ketika Al-Qur’an berkali-kali bertanya:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian berpikir?”

sesungguhnya wahyu sedang menegaskan satu hal yang sangat mendasar: bahwa berpikir bukan sekadar kemampuan manusia, tetapi kewajiban eksistensial manusia.

Di sinilah Islam membedakan dirinya dari tradisi jahiliyah. Jahiliah bukan hanya kondisi tanpa ilmu, tetapi kondisi ketika manusia tidak menggunakan akalnya secara benar. Mereka mengikuti tradisi tanpa kritik, mempercayai keyakinan tanpa verifikasi, dan tunduk pada kebiasaan tanpa kesadaran. Maka Al-Qur’an datang bukan hanya membawa ajaran, tetapi membangunkan akal manusia dari keterlenaan.

“Afalā ta‘qilūn” adalah teguran keras terhadap manusia yang memiliki akal, tetapi tidak menggunakannya. Karena akal dalam Islam bukan aksesori intelektual—ia adalah anugerah besar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan akal, manusia membaca alam, memahami wahyu, mengelola kehidupan, dan membangun peradaban.

Namun justru karena akal adalah anugerah besar, ia tidak boleh disia-siakan.

Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, berpikir adalah bagian dari ibadah. Membaca tanpa berpikir hanya melahirkan hafalan. Beriman tanpa berpikir mudah berubah menjadi taklid. Bahkan ilmu tanpa proses berpikir bisa kehilangan makna dan arah.

Karena itu, Al-Qur’an tidak pernah memuliakan kebekuan berpikir. Ia justru mendorong manusia untuk:

merenung,

mengamati,

membandingkan,

menguji,

dan mengambil kesimpulan dengan sadar.

Di sinilah akal menemukan kemuliaannya:
bukan ketika ia merasa paling tinggi,
tetapi ketika ia digunakan untuk menemukan kebenaran.

Namun wahyu juga memberi batas: akal harus tetap berjalan dalam cahaya petunjuk Tuhan. Karena akal yang aktif tanpa wahyu bisa berubah menjadi kesombongan, sementara wahyu tanpa penggunaan akal bisa berubah menjadi formalitas yang mati.

Maka “أَفَلَا تَعْقِلُونَ” bukan sekadar ajakan berpikir—
tetapi perintah untuk menghidupkan seluruh potensi kemanusiaan.

Karena manusia yang tidak berpikir kehilangan arah.
Dan akal yang tidak digunakan adalah anugerah yang disia-siakan.

Pada akhirnya, kemuliaan manusia bukan hanya karena ia memiliki akal—
tetapi karena ia mau menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran dan tunduk kepadanya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search