Catatan Terhadap Gelar “Haji”

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Alhamdulillah sejak hari Senin 1 Juni lalu jemaah haji dari berbagai daerah tanah air telah kembali dari tanah suci. In syaa Allah mabrur.

Ada kebiasaan di masyarakat kita dan menjadi tradisi turun-temurun, yaitu memberikan gelar haji kepada mereka yang sudah menunaikan rukun Islam ke 5. Sebaiknya gelar ini tidak digunakan, karena jika tidak disematkan lebih mengantarkan kepada puncak keikhlasan.

Berikut beberapa catatan mengenai “gelar haji”

1. Sebaiknya tidak menggunakan gelar haji untuk lebih menjaga keikhlasan. Tidak perlu orang lain tahu bahwa kita sudah naik haji. Bahkan ada beberapa orang (semoga Allah mengikhlaskan niat mereka), tidak mau dan bahkan marah jika tidak dipanggil dengan gelar haji atau dalam namanya tidak ada singkatan “H” atau “Hj” yang berarti haji dan hajah, misalnya Haji Fulan dan Hajah Fulanah.

2. Gelar haji pun tidak ada contoh dan tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat, serta para imam dan ulama-ulama sebelum kita.

3. Ibadah haji adalah ibadah yang agung, butuh pengorbanan harta yang tidak sedikit dan pengorbanan fisik. Kesempatannya juga cukup langka. Hendaknya amalan tersebut diikhlaskan kepada Allah semata. Perlu kita ingat bahwa orang yang pertama kali dimasukkan neraka adalah orang yang niatnya tidak ikhlas, beribadah karena riya’ dan ingin pujian manusia. Karena ini merupakan syirik yaitu menyekutukan Allah dalam niat ibadah.

Ingatlah sebagaimana dalam hadits, di akhirat kelak akan dipanggil tiga orang yang amalnya sangat banyak,

  • Pertama sering membaca Al-Quran,
  • Kedua sering berjihad dan
  • Ketiga sering berinfak di jalan Allah.

Akan tetapi mereka beribadah ternyata karena pujian dan dan riya’ kepada manusia. Maka mereka adalah orang yang pertama kali masuk neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali disiksa dengan api neraka di hari kiamat.”

4. Lebih baik kita mengikhlaskan niat kita. Karena jika sampai rusak maka pahalanya akan sia-sia dan terhapus, padahal pengorbanan sudah begitu banyak. Allah Ta’ala berfirman; “Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan: 23)

5. Yang paling penting dari ibadah haji adalah kelanjutan setelahnya, bukan gelar haji setelahnya. Selepas naik haji, hendaknya ibadah kita tetap istikamah, rajin salat berjamaah di masjid, tetap salat malam, menjaga perkataan dan perbuatan serta berhias dengan akhlak yang mulia yang membuat lapang hati manusia. Intinya adalah tetap istikamah. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Wa Ta’ala adalah amalan yang terus- menerus walaupun itu sedikit.”

Semoga Allah selalu mengikhlaskan niat kita dan semoga jamaah haji kaum muslimin selalu berusaha menjaga niat ikhlas.

Amin ya mujiibas saa-ilin.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk berbuat kebajikan.

In syaa Allah bermanfaat, silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah || ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search