“Humans cannot design who they fall in love with; marriage can be designed, but love cannot.”
“(Manusia tidak bisa merancang jatuh cinta pada siapa; perkawinan bisa dirancang, tetapi cinta tidak bisa)”
Perasaan manusia adalah misteri terbesar yang tersimpan rapat dalam dada. Kita sering berusaha mengendalikan segalanya, namun ada satu hal yang selalu luput dari kendali: arah jatuh hati.
Perjodohan dan resepsi bisa disiapkan matang-matang lewat kompromi serta logika. Namun, getaran di hati adalah murni domain Ilahi. Allah SWT berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ
Artinya
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. (Qs. A-Ruum:21)
Tafsir Ibn Katsir menjelaskan, rasa cinta (mawadah) dan kasih sayang (rahmah) dalam ayat di atas adalah anugerah langsung dari Allah yang ditanamkan ke dalam hati pasangan, bukan sesuatu yang bisa dipaksa atau diciptakan secara mekanis oleh manusia.
Hati manusia sifatnya berbolak-balik di bawah kekuasaan-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
إن القلوبَ بين إصبعين من أصابعِ اللهِ يقلِّبُها كيف يشاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya hati semua anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikannya menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim No. 2654)
Menikah adalah ikhtiar merancang komitmen hidup, tetapi cinta adalah rahmat yang ditiupkan Sang Maha Pengasih. Tugas kita bukanlah memaksakan rasa, melainkan merawat ikatan perkawinan dengan penuh ketulusan, hingga rasa cinta itu bertumbuh atas ridha-Nya.
Semoga bermanfaat.
