Hidayah itu Mahal, Bersyukurlah Jika Hatimu Masih Bergetar Melihat Tanda Kematian

Hidayah itu Mahal, Bersyukurlah Jika Hatimu Masih Bergetar Melihat Tanda Kematian
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Pernahkah kita menatap mobil jenazah yang melintas, mendengar pengumuman duka dari pengeras suara masjid, atau melihat gundukan tanah yang masih basah, lalu dada kita terasa sesak? Ada rasa bergetar, lirih, dan cemas yang tiba-tiba hadir menyapa hati. Jika kita masih merasakan hal tersebut, berhenti sejenak dan ucapkanlah alhamdulillah. getaran kecil itu adalah tanda bahwa hatimu belum mati, dan hidayah Allah masih menyapamu.

Hidayah sering kali kita bayangkan sebagai momen besar yang mengubah hidup seseorang secara drastis dari kegelapan menuju cahaya. Padahal, hidayah juga hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: rasa takut akan akhir hayat yang buruk (khusnul khotimah vs su’ul khotimah), penyesalan atas dosa yang baru saja dilakukan, atau dorongan untuk segera bersujud ketika menyadari betapa singkatnya hidup ini.

Mengapa hidayah itu mahal? Sebab, tidak semua orang dianugerahi kepekaan hati yang sama. Ada sebagian orang yang setiap hari menyaksikan kematian, mendatangi pemakaman, atau bahkan kehilangan orang-orang terdekat, namun hatinya tetap dingin dan keras seperti batu. Kematian bagi mereka tak ubahnya fenomena biologis biasa, tanpa membawa pesan moral atau dorongan untuk berbenah diri. Ketika hati sudah tumpul terhadap peringatan terbesar seperti kematian, itu adalah alarm bahaya bagi kehidupan spiritual seseorang.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa cukuplah kematian sebagai penceramah (kafa bil mauti wa’izhan). Kematian adalah nasihat paling jujur yang tak butuh kata-kata. Ia menanggalkan semua atribut duniawi kita: jabatan, kekayaan, kasta, dan popularitas, lalu menyisakan satu pertanyaan krusial: siapkah kita membawa bekal kain kafan dan amal yang ada?

Ketika hatimu bergetar melihat tanda-tanda kematian, bersyukurlah. Getaran itu adalah sinyal bahwa Allah masih menginginkanmu kembali. Itu adalah bentuk “sentoran” dari Sang Pencipta agar kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang sering kali menidurkan kesadaran kita.

Hidayah yang mahal ini jangan biarkan menguap begitu saja bersama waktu. Jadikan getaran hati itu sebagai bahan bakar untuk memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, melembutkan tutur kata, dan melunakkan ego. Sebab kita tidak pernah tahu, bisa jadi getaran hati hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan sebelum nama kitalah yang berikutnya dipanggil.

Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan secara mendalam tentang malahnya nilai hidayah serta kondisi hati yang bergetar ketika menerima peringatan dan mengingat Allah:

1. Hidayah Murni Hak Prerogatif Allah (Hidayah itu Mahal)

Hidayah adalah milik Allah yang sangat mahal dan tidak bisa dibeli dengan materi, bahkan seorang Rasul pun tidak bisa memberikannya kepada orang yang sangat dicintainya tanpa izin Allah.

QS. Al-Qasas: 56
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
Sungguh, engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk (hidayah) kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki…”

QS. Az-Zumar: 22 (Hati yang terbuka menerima hidayah adalah cahaya dari Allah)
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah…”

2. Bergetarnya Hati Melihat Peringatan & Tanda Kekuasaan Allah

Getaran hati ketika mendengar nama Allah, mengingat janji-Nya, atau menyaksikan tanda-tanda kematian/peringatan adalah ciri utama orang beriman yang hatinya masih hidup.
QS. Al-Anfal: 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) iman mereka…”

QS. Al-Hajj: 35
الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ…

yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar…”

3. Peringatan bagi Hati yang Lembut agar Tidak Keras Menghadapi Kematian

Allah mengingatkan umat beriman agar senantiasa menjaga kelembutan hati dan tidak membiarkan hati menjadi keras seperti orang-orang terdahulu.

QS. Al-Hadid: 16
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepandanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras…”

4. Kepastian Kematian sebagai Peringatan Terbaik

QS. Ali ‘Imran: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…”(*)

Tinggalkan Balasan

Search