Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sedang melakukan perjalanan. Sejak dilahirkan, ia bergerak dari satu fase kehidupan menuju fase berikutnya. Ia tumbuh, belajar, bekerja, membangun keluarga, menghadapi keberhasilan dan kegagalan, merasakan kebahagiaan dan kesedihan, hingga akhirnya sampai pada satu kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun: kematian.
Namun, di tengah seluruh kesibukan menjalani perjalanan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang sering kali tidak sempat diajukan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar mengetahui ke mana kehidupan ini sedang membawa kita?
Dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang belum dikenal, manusia biasanya sangat berhati-hati. Kita mencari informasi tentang tujuan, menentukan rute, bahkan menggunakan GPS agar tidak tersesat. Kita memahami bahwa perjalanan tanpa petunjuk dapat membuat seseorang mengambil jalan yang salah. Menariknya, untuk perjalanan beberapa kilometer saja manusia membutuhkan peta, tetapi untuk perjalanan kehidupan yang berlangsung puluhan tahun, tidak sedikit orang justru menjalaninya tanpa pernah memiliki gambaran yang jelas tentang arah hidupnya.
Manusia modern mungkin memiliki banyak rencana. Ia merencanakan pendidikan, karier, usaha, keluarga, masa depan, bahkan masa pensiun. Ia memiliki target-target yang tersusun rapi dan jadwal yang semakin padat. Namun memiliki banyak rencana belum tentu berarti memiliki arah kehidupan. Seseorang dapat sangat sibuk, bekerja sangat keras, dan bergerak sangat cepat, tetapi belum tentu sedang berjalan menuju tujuan yang benar. Sebab persoalan kehidupan bukan hanya tentang seberapa cepat kita berjalan, melainkan ke mana kita berjalan.
Di sinilah seorang muslim membutuhkan petunjuk. Kehidupan tidak diciptakan tanpa tujuan. Manusia tidak hadir di dunia hanya untuk lahir, tumbuh, mencari berbagai kesenangan, lalu mati. Seorang Muslim memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah yang menjalani kehidupan sebagai sebuah amanah. Karena itu, pertanyaan tentang kehidupan tidak boleh berhenti pada bagaimana seseorang dapat sukses, tetapi harus sampai kepada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa sebenarnya aku hidup, bagaimana aku harus menjalani kehidupan, dan ke mana pada akhirnya aku akan kembali?
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Wahyu diturunkan agar manusia memiliki arah. Al-Qur’an menjadi cahaya yang membantu manusia memahami dirinya, memahami kehidupan, membangun hubungan dengan sesama, menjalankan amanah, menghadapi ujian, dan mempersiapkan kepulangannya. Manusia mungkin memiliki kecerdasan untuk menemukan berbagai jalan dalam kehidupan, tetapi kecerdasan saja tidak selalu mampu menentukan jalan mana yang benar. Manusia dapat menguasai teknologi, membangun peradaban, dan mencapai berbagai keberhasilan, tetapi tanpa petunjuk dari Allah, ia tetap dapat kehilangan arah dalam perjalanan hidupnya.
Karena itulah, kehidupan seorang Muslim membutuhkan semacam roadmap, sebuah peta perjalanan yang membantu dirinya memahami posisi dan arah. Seperti GPS yang membantu seseorang mengetahui di mana ia berada dan ke mana ia harus menuju, seorang Muslim juga perlu terus bertanya kepada dirinya sendiri: di mana posisiku saat ini? Apakah aku masih berada di jalan yang benar? Apakah langkah-langkah yang aku tempuh membawa diriku semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?
Pertanyaan seperti ini sangat penting karena dalam perjalanan kehidupan, manusia tidak selalu berjalan lurus. Ada saat ketika seseorang salah mengambil keputusan. Ada masa ketika ia terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan tujuan akhir kehidupannya. Ada waktu ketika hawa nafsu, ambisi, lingkungan, dan berbagai godaan membuatnya menyimpang dari arah yang seharusnya. Namun Islam tidak menutup pintu bagi orang yang pernah salah langkah. Justru seorang Muslim diajarkan untuk melakukan muhasabah, memeriksa kembali perjalanan dirinya, menyadari kesalahan, kemudian melakukan perbaikan melalui taubat.
Dalam kehidupan, tersesat bukanlah akhir dari perjalanan. Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika seseorang tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah tersesat. Ia terus berjalan dengan penuh keyakinan, padahal semakin jauh meninggalkan arah yang benar. Karena itulah muhasabah menjadi sangat penting. Seorang Muslim harus memiliki keberanian untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidupnya.
Setelah itu, ia harus memiliki keberanian untuk berubah. Perubahan tidak selalu mudah, sebab sering kali seseorang harus meninggalkan kebiasaan, cara berpikir, bahkan jalan hidup yang selama ini telah dianggap nyaman. Di sinilah sabar, syukur, dan taubat menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang Muslim, hingga akhirnya semua itu harus dijaga dengan istiqamah.
