Ketika standar kebenaran berdasarkan kekayaan, maka terjadi penghinaan terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Demikianlah yang terjadi pada diri orang kafir yang memiliki kehidupan yang lebih mapan seringkali meremehkan orang yang beriman. Oleh karena meremehkan, maka orang kafir yang hidup dalam kemapanan akan menolak kebenaran yang disampaikan oleh mereka yang dipandang miskin.
Hal inilah kebanyakan yang menimpa pada para nabi dan rasul. Utusan Allah memiliki pengikut kebanyakaan orang miskin, sehingga ketika menyampaikan dakwah, langsung ditolak oleh mereka yang hidup berkecukupan. Ketika harta dan kekuasaan menjadi ukuran kemuliaan, inilah awal mula hancurnya peradaban.
Indahnya Dunia
Peradaban rendah ketika kekayaan dan kekuasaan menjadi parameter kemuliaan. Sementara Al-Qur’an justru sebaliknya, dimana kemuliaan ketika tidak mengedepankan harta dan kekuasaan dalam kehidupan.
Al-Qur’an memaparkan bahwa kekafiran memiliki cara pandang mengunggulkan kekayaan dan kekuasaan. Implikasinya, mereka memandang rendah orang beriman yang kebanyakan tidak berorientasi penumpukan harta dan kekuasaan. Sebagaimana umumnya, kekafiran memandang bahwa taraf kehidupan ekonomi yang mapan dipandang sebagai ukuran kesuksesan.
Di sisi lain, orang beriman memandang kesuksesan akhirat menjadi orientasi, dan menomorsekiankan kemapanan duniawi. Kondisi inilah yang membuat kaum beriman menjadi sasaran hinaan. Al-Qur’an memotret hal ini secara komprehensif, dimana orang kafir berorientasi dunia sangat kental sehingga merendahkan orang beriman, sebagaimana firman-Nya :
:
زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۘ وَالَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Al-Baqarah: 212)
Karena kesuksesan diukur dengan kekayaan, orang miskin dipandang rendah. Rumah megah, harta berlimpah, kekuasaan kokoh, dan tempat pertemuan yang indah dianggap sebagai bukti kemuliaan. Padahal dalam Islam, kemuliaan tidak ditentukan oleh kekayaan, tetapi oleh ketakwaan.
Oleh karenanya, ketika disodorkan ajakan untuk mengikuti kebenaran, maka mereka yang bergelimang dalam kekayaan menolak. Menolak dengan alasan pembawa kebenaran dan pengikutnya hidup dalam kemiskinan. Hal tersebut ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۙ اَيُّ الْفَرِيْقَيْنِ خَيْرٌ مَّقَامًا وَّاَحْسَنُ نَدِيًّا
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?‘” (QS. Maryam: 73)
Kesombongan semacam ini telah terjadi sejak masa para rasul. Para pembesar kaum Nabi Nuh menolak dakwah karena pengikut beliau kebanyakan berasal dari kalangan yang mereka pandang rendah. Mereka sulit menerima kenyataan bahwa kebenaran justru diikuti orang-orang sederhana.
Fir‘aun juga menjadi contoh manusia yang terlena oleh kekuasaan. Kekuasaan yang besar membuatnya menindas Bani Israil, membunuh, dan menolak dakwah Nabi Musa. Qarun bersikap sama karena kekayaannya yang melimpah. Hartanya yang melimpah tidak melahirkan rasa syukur. Sikapnya justru sombong dan merendahkan orang miskin.
Keingkaran
Berlimpahnya kekayaan bukan selalu menambah rasa syukur. Itulah peradaban yang rendah. Dalam banyak kasus, manusia yang telah berkecukupan justru kurang bersyukur. Mereka justru menjadi pelaku kejahatan. Pelaku suap, penggelapan, pencucian uang, monopoli usaha, dan eksploitasi terhadap kelompok lemah justru dilakukan orang yang mapan.
Kekayaan justru dimanfaatkan untuk mempengaruhi keputusan politik, pasal-pasal hukum, yang berujung untuk mempertahankan kepentingan ekonomi yang telah mapan. Dalam keadaan seperti itu, harta tidak lagi berfungsi sebagai amanah, tetapi berubah menjadi alat mempertahankan kekuasaan.
Pola tersebut telah tampak pada para penentang rasul. Fir‘aun menggunakan kekuasaan untuk menindas. Qarun menggunakan kekayaan untuk membangun kebanggaan diri. Mereka dalam kemapanan dan kemewahan, menjadi sasaran penghancuran Al-Qur’an menarasikan hal itu sebagaimana drbsgsimsns firman-Nya :
وَكَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنْ قَرْنٍ هُمْ اَحْسَنُ اَثَاثًا وَّرِءْيًا
“Dan berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal mereka lebih bagus perkakas rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata.” (QS. Maryam: 74)
Fir‘aun, Haman, dan Qarun bersinergi menolak dakwah Nabi Musa. Demikian pula yang dilakukan kaum ‘Ad, kaum Tsamud, serta para elite penentang rasul, semuanya menolak karena kekayaan yang telah mapan. Kekayaan dan kekuasaan yang mapan justru menggerakkan dan menindas pihak yang lebih rendah kedudukan sosial ekonominya
Apa yang diperjuangkan rasul mengajak mereka yang hidup mapan untuk menaikkan derajat kemuliaan, bukan dengan membanggakan kekayaan dan kekuasaan. Kemuliaan manusia bukan dilihat dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau megahnya kehidupan serta perabot yang mewah. Kemuliaan ketika harta dan kekuasaan untuk menopang kebenaran. Bukan sebaliknya, justru sebagai penghalang tersebarnya kebenaran.
Tetapi sudah menjadi sunnatullah, ketika manusia dalam kemapanan, maka harta dan kekuasaan dipandang sebagai ukuran kemuliaan. Kemewahan memperindah kehidupan, dan membentuk sikap sombong dan ingkar terhadap kebenaran dan memandang hina pihak yang status sosial dan ekonominya lebih rendah dari dirinya. Realitas inilah yang mengarah pada hancurnya peradaban.
Surabaya, 7 September 2026
