Dakwah Islam tidak bisa dilepaskan dari denyut kebudayaan tempatnya berpijak. Agar pesan-pesan agama meresap secara alamiah tanpa memicu resistensi, dakwah dituntut adaptif membaca potensi budaya lokal sekaligus merespons tantangan zaman.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gita Danu Pranata. Ia menekankan bahwa pendekatan kultural merupakan jembatan efektif untuk menghadirkan Islam yang relevan dengan realitas masyarakat.
“Dakwah harus mampu menjawab tantangan zaman. Bisa jadi cara dakwah kita memang berbasis budaya,” ujar Gita.
Gita menjelaskan, Muhammadiyah telah lama memiliki panduan yang matang dalam memandang hubungan antara Islam, seni, dan budaya. Hal ini tertuang secara khusus dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT).
Adanya tuntunan tersebut mempertegas bahwa seni dan tradisi bukan hal yang pantas dijauhi. Sebaliknya, kebudayaan dapat dijadikan alat strategi dakwah—selama pemanfaatannya tidak menabrak batas-batas fikih dan ajaran Islam.
“Seni itu pada dasarnya bebas nilai. Semua tergantung pada konten dan niat ketika kita mengisinya. Penilaiannya harus objektif dari isi serta tujuan penggunaannya,” terangnya.
Merawat Tradisi, Menghadirkan Islam yang Ramah
Mengambil contoh masyarakat Yogyakarta yang kaya akan tradisi, Gita menilai ruang dakwah perlu berinteraksi langsung dengan seni lokal. Ekspresi budaya seperti hadrah, macapat, wayang, hingga penggunaan busana tradisional dapat menjadi media perjumpaan yang hangat antara dakwah dan warga.
Melalui pendekatan kultural ini, Muhammadiyah mendorong para dai agar tidak terburu-buru menghakimi atau memberi label negatif pada bentuk-bentuk kebudayaan lokal. Terlebih, Islam sendiri adalah agama yang mencintai keindahan.
Dengan kemampuan membaca budaya, pesan-pesan Islam dapat disampaikan melalui “bahasa kehidupan” yang familier di telinga masyarakat. Budaya pun bertransformasi menjadi potensi besar untuk memperluas jangkauan dakwah yang menyejukkan. (*/tim)
