Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melalui Emergency Medical Team ( turut berkontribusi dalam WHO Ministerial Conference on Advancing Health Security through Earthquake Emergency Management yang diselenggarakan WHO Regional Office for Europe bersama Kementerian Kesehatan Republik Türkiye di Istanbul, pada 1–2 Juli 2026.
Konferensi tersebut diikuti lebih dari 250 peserta dari sekitar 40 negara yang terdiri atas menteri kesehatan, perwakilan negara anggota WHO, organisasi internasional, akademisi, mitra pembangunan, serta praktisi penanggulangan bencana. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana gempa bumi.

Pada kesempatan tersebut, Koordinator Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, dr. Corona Rintawan, dipercaya menjadi salah satu delegasi Indonesia sekaligus panelis dalam sesi High-Level Panel Discussion 2: Enhancing Global Collaboration and Innovation for Earthquake Health Emergency Management.
Dalam paparannya yang berjudul “Learning Systems, Evidence, and After-Action Reviews”, dr. Corona menekankan pentingnya membangun budaya belajar dalam setiap respons bencana melalui penelitian operasional, dokumentasi pengalaman lapangan, serta pelaksanaan after-action review.
“Proses pembelajaran ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus memperkuat kualitas respons kesehatan pada setiap kejadian bencana,” jelasnya.
Keikutsertaan EMT Muhammadiyah sebagai panelis internasional menjadi bentuk pengakuan terhadap pengalaman Muhammadiyah dalam pengembangan Emergency Medical Team, penguatan sistem kesehatan tangguh, serta penanganan kedaruratan kesehatan di berbagai bencana, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam konferensi yang sama, Indonesia juga mengikuti Ministerial Roundtable yang dihadiri Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Pada sesi tersebut, Indonesia memaparkan berbagai upaya penguatan sistem kesehatan melalui pengembangan Health Emergency Operations Center (HEOC), penguatan Emergency Medical Teams (EMT) sesuai standar WHO, serta penerapan Safe Hospital Guidelines dalam sistem akreditasi rumah sakit.
Indonesia juga membagikan pengalaman dalam pengiriman Emergency Medical Team ke Turkiye pada 2023, serta misi kemanusiaan di Vanuatu dan Myanmar sebagai bagian dari komitmen terhadap solidaritas kemanusiaan global.
Melalui forum ini, Indonesia turut mendorong penguatan investasi pada sistem kesehatan yang tangguh, peningkatan kapasitas Emergency Medical Team melalui standar internasional, pelatihan dan simulasi, serta perluasan kolaborasi global melalui penelitian operasional, after-action review, dan berbagi pengetahuan.
Partisipasi EMT Muhammadiyah dalam forum internasional ini mempertegas komitmen MDMC untuk terus meningkatkan kapasitas relawan kesehatan, memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra, serta berkontribusi dalam pengembangan sistem kesehatan yang lebih siap dan tangguh menghadapi bencana, baik di Indonesia maupun di tingkat global.(*/tim)
