Fakta di Balik Puasa Sunah Asyura

Fakta di Balik Puasa Sunah Asyura
*) Oleh : Suharto Fauzan
Pegiat Literasi (Simpatisan Muhammadiyah)
www.majelistabligh.id -

Bulan Muharram adalah salah satu momentum paling berharga dalam kalender Islam. Di dalam bulan yang mulia ini, terdapat satu hari yang sangat istimewa, yaitu hari kesepuluh yang dikenal sebagai Hari Asyura. Umat Muslim sangat dianjurkan untuk menghidupkan hari tersebut dengan ibadah puasa sunah. Di balik kesederhanaan ibadahnya, Puasa Asyura menyimpan sejarah mendalam dan keutamaan yang luar biasa bagi siapa saja yang mengamalkannya.

Kedudukan Bulan Muharram dalam Al-Qur’an
Secara spesifik, ibadah Puasa Asyura memang tidak disebutkan langsung dalam ayat Al-Qur’an, melainkan diperintahkan melalui petunjuk Rasulullah ﷺ. Namun, landasan kemuliaan bulan pelaksanaannya (Muharram) tercantum jelas di dalam Al-Qur’an sebagai salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum). Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya…” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa beramal saleh pada bulan-bulan haram ini, termasuk Muharram, memiliki bobot pahala yang lebih besar di sisi Allah SWT.

Fakta Sejarah dan Keutamaan Puasa Asyura

Melalui pendekatan hadits, kita dapat menemukan beberapa fakta penting yang melandasi pelaksanaan Puasa Asyura:

1. Hari Kemenangan Nabi Musa AS
Nabi Muhammad ﷺ pertama kali mendapati anjuran puasa ini ketika beliau berhijrah ke Madinah. Beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian (kaum Yahudi). Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari)

2. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Fakta paling memotivasi dari puasa ini adalah jaminan pengampunan dosa-dosa kecil yang telah kita perbuat selama satu tahun ke belakang. Sebuah investasi spiritual yang sangat besar hanya dengan menahan lapar dan dahaga selama satu hari.
Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini saat ditanya mengenai keutamaan hari Asyura: “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar puasa itu menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

3. Puasa Terbaik Setelah Ramadan
Secara umum, berpuasa di bulan Muharram menempati kasta tertinggi dalam jajaran puasa sunah setahun penuh. Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim)

Menyempurnakan Asyura dengan Puasa Tasu’a

Untuk membedakan identitas ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah anjuran penting di akhir hayat beliau. Umat Muslim disunahkan untuk menggandeng puasa tanggal 10 Muharram dengan puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram yang disebut dengan Puasa Tasu’a.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila tiba tahun depan –insya Allah– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Melalui kombinasi dalil Al-Qur’an tentang kemuliaan bulan Muharram serta rincian hadits di atas, Puasa Asyura menjadi ladang bagi kita untuk membersihkan diri dari dosa dan merawat rasa syukur atas pertolongan Allah SWT sepanjang sejarah umat manusia.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search