Fatmawati: Menjahit Sang Saka dengan Air Mata

Fatmawati
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ketangguhan Fatmawati, Rahim Pergerakan Muhammadiyah Bengkulu, dan Helai Benang Penyatu Bangsa.

***

Setiap tanggal 17 Agustus menyapa Republik ini, mata kita kerap terpaku pada bentangan kain Sang Saka Merah Putih yang mengangkasa gagah di langit biru.

Di balik setiap kelebatan kibarannya, adakah kita mendengar bisikan sunyi dari jemari yang pernah melepuhkan diri, menahan perih, dan menggenangkan air mata demi lahirnya sehelai bendera pusaka?

Nama itu adalah Fatimah, yang kemudian dikenal sebagai Fatmawati. Bagi sebagian besar orang, beliau dikenang sebagai sosok penjahit Bendera Pusaka atau Ibu Negara pertama Indonesia. Namun sejarah yang sejati mencatat bahwa ketegaran Fatmawati adalah buah dari persemaian keimanan dan pergerakan militan yang ditanamkan sejak ia bernapas di tanah kelahirannya, Kampung Pasar Malabero, Bengkulu.

Lahir pada 5 Februari 1923, gadis kecil bernama Fatmawati bertumbuh dalam dekapan keluarga pembawa obor perjuangan. Ayahnya, Hasan Din, seorang Konsul Muhammadiyah Bengkulu, rela melepas kemewahan jaminan hidup layak sebagai pegawai perusahaan raksasa Belanda, Borsumy.

Ketika pemerintah kolonial menyodorkan ultimatum untuk memilih antara kemapanan materi atau prinsip perjuangan Muhammadiyah yang konfrontatif, Hasan Din memilih angkat kaki. Ibunya, Siti Chadijah, adalah aktivis ‘Aisyiyah yang tak lelah mengajar baca tulis dan membekali kaum perempuan dengan keterampilan.

Dari rahim dan keteladanan inilah, Fatmawati menempa jiwanya dalam wadah Nasyiatul ‘Aisyiyah—menjadi gadis remaja yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan, menjajakan kacang bawang goreng untuk menopang keluarga, namun memiliki nyali dan visi kemerdekaan yang melampaui zamannya.

Suara indahnya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sering memukau beberapa panggung Muhammadiyah. Keanggunan spiritualitas dan militansi perjuangan itu kelak menjadi benteng kokoh saat ia mendampingi Bung Karno menembus bara api penjajahan Jepang hingga deru gelora revolusi.

Tetesan Air Mata pada Bendera Pusaka

Momen paling mengharu biru dalam helai sejarah bangsa ini tercipta di sebuah ruang makan sederhana, menjelang 17 Agustus 1945. Di Jakarta, saat usia kandungannya telah hamil tua dan tinggal menghitung hari untuk melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra, Fatmawati memaksakan fisiknya yang ringkih untuk menjahit selembar kain merah dan putih berukuran 2 x 3 meter.

“Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kenang Fatmawati dalam catatan memorinya.

Kondisi fisiknya tak mengizinkan ia menginjak pedal mesin jahit. Dokter melarang keras. Namun, dorongan cinta yang membara untuk kemerdekaan tanah air menembus batas rasa sakitnya. Dengan sabar dan berangsur-angsur selama dua hari, jemari tangannya memutar engkol mesin jahit Singer manual.

Tetes demi tetes air mata haru, lelah, dan doa keibuan jatuh menyerap ke dalam serat-serat kain merah dan putih tersebut. Kain yang disatukan bukan hanya dengan benang, melainkan dengan keteguhan jiwa seorang perempuan muda pengawal revolusi.

Hari ini, 17 Agustus 2026, tatkala Merah Putih berkibar megah menembus cakrawala, ketahuilah bahwa di setiap kibarannya terpatri pusaka tak ternilai. Ada Doa, keteguhan, dan air mata kasih seorang Fatmawati binti Hassan Din.

Beliau tidak hanya menjahit selembar kain, tetapi sedang merajut martabat dan jiwa sebuah bangsa yang merdeka. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search