Firaun Raja yang Digdaya

Mumi yang diyakini sebagai Firaun, tersimpan di museum Mesir. (ist)
*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Firaun adalah gelar untuk raja-raja Mesir Kuno. Mereka sangat berkuasa (digdaya) dan membangun piramida besar. Firaun terkenal di kitab suci adalah raja yang sombong pada zaman Nabi Musa. Dia mengaku sebagai Tuhan, yang akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah.

Firaun adalah gelar jabatan, seperti “Presiden” atau “Raja”. Ada sekitar 170 Firaun yang memimpin Mesir Kuno selama ribuan tahun. Contoh nama asli Firaun antara lain Ramses II (Raja Agung), atau Khufu (pembuat piramida), dan Cleopatra (ratu terakhir).

Firaun di Zaman Nabi Musa memegang kekuasaan besar. Dia memiliki pasukan yang sangat kuat. Kisah legendaris, Firaun ini mengejar Nabi Musa dan pengikutnya yang menyeberangi laut merah.

Banyak ahli sejarah, seperti di artikel Britannica, menyatakan bahwa Firaun yaitu Raja Mesir Kuno namanya diabadikan dalam Al-Qur’an dan Injil. Nama Firaun, di abadikan sebanyak 74 kali dalam Al Quran. Jumlah ini bahkan lebih banyak daripada Nabi Ibrahim as, yang disebut sebanyak 64 kali.

Bila merujuk pada Al Quran, tentang hubungan Raja Firaun dengan Nabi Musa as.

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ

“Firaun menjawab: Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Su’ara’ ayat 18).

Ucapan Firaun kepada Nabi Musa as dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi Musa as.

Bila mengacu pada kronologi Al Quran, usia Nabi Musa as ketika bertemu kembali dengan Firaun setelah pelariannya ke Madyan, sekitar 50 tahun. Dengan demikian, hanya Firaun dengan masa pemerintahan di atas 50 tahun yang mungkin menjadi sosok yang dimaksud oleh Al Quran. Sampai dia mati ditenggelamkan di laut merah.

Allah swt berfirman:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus ayat 92).

Menurut para ahli tafsir, ayat ini menegaskan beberapa poin penting:

  • Bukti Kekuasaan Allah: Allah berkuasa atas segalanya dan tidak ada yang bisa menandingi-Nya.
  • Akhir Bagi Orang Sombong: Firaun yang kejam dan sombong akhirnya binasa tanpa daya.
  • Pelajaran Abadi: Tubuhnya diselamatkan Allah agar manusia di masa depan bisa melihatnya sebagai pengingat.

Pada saat ayat ini diturunkan, tidak seorang pun mengetahui akan kebenaran informasi tersebut, karena kisah Firaun telah terjadi kurang lebih 3.000 tahun sebelumnya.

Akan tetapi, pada tahun 1898, Loret menemukan sebuah mumi, lembah raja-raja yang teridentifikasi sebagai Mineptah, dan anak dari Ramses II di Thebes. Maurice Bucaille dalam bukunya “Bibel, Quran, dan Sains Modern” berkeyakinan bahwa Firaun tersebut adalah Firaun yang mengejar Nabi Musa dan bangsa Israil ketika keluar dari Mesir.

Pada tanggal 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka perban-perban yang menyelubungi mumi tersebut dan memeriksa keadaannya. Smith menjelaskan bahwa mumi tersebut dalam keadaan baik walaupun ada beberapa kerusakan di beberapa bagian.

Jasad Firaun

Pada bulan Juni 1975, Pemerintah Mesir memperbolehkan para peneliti untuk memeriksa bagian-bagian tubuh Firaun yang ditemukan serta mengambil gambarnya. Penelitian tersebut di bawah kepemimpinan Maurice Bucaille, yang merupakan seorang ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah menjadi kepala klinik bedah di Universitas Paris.

Penelitian dititik beratkan pada penyebab kematian Firaun dengan memeriksa tengkorak kepalanya. Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa kematian Firaun itu karena digulung oleh gelombang.

Hasil penemuan tim tersebut menunjukkan bahwa kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an tidak diragukan lagi, bahwa Firaun benar-benar ditenggelamkan oleh Allah Swt. dan jasadnya diselamatkan-Nya sebagai pelajaran bagi orang-orang setelahnya.

Hikmah yang dapat diambil

Mesir Kuno adalah suatu pemerintahan yang paling lama berjaya di atas dunia, yang banyak melahirkan ahli ahli matematika, astronomi, standarisasi putaran jarum jam, dasar dasar ilmu kedokteran, sistem bangunan tahan gempa, tahan badai dan banyak lagi yang masih dapat dirasakan untuk kehidupan manusia sampai sekarang.

Mari kita ambil hikmah nya. Bangsa Mesir Kuno dapat menjadi negara besar karena Bangsa Mesir Kuno pandai menghargai bangsanya. Setiap anak bangsa berjasa kepada negara, mayatnya di mumikan agar jasa-jasanya dapat dikenang oleh anak bangsa berikutnya.

Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an tentang tubuh Firaun yang sekarang berada di ruang mumi di Museum Mesir di Kairo. Penyelidikan dan penemuan-penemuan modern telah menunjukkan kebenaran Al-Qur’an.

Sehebat Firaun tak kan mampu melawan takdir Allah, sekarang status Firaun sama dengan ikan kering, ditonton orang banyak, besar kecil tua muda. Terkadang di hati kecil setiap pengunjung  melihat mumi Raja Firaun terucap kata kata lirih: “Raja Firaun rupanya engkau pernah menobatkan dirimu sebagai Tuhan, wahai Sang Raja.” (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search