Rencana Normatif dan Takdir Allah: Ketika Hidup Tidak Pernah Patuh pada Skenario Manusia

Rencana Normatif dan Takdir Allah: Ketika Hidup Tidak Pernah Patuh pada Skenario Manusia
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

“Hidup ini tidak bisa diukur memakai “meteran baju”, seolah-olah ada satu ukuran yang pasti berlaku bagi semua orang. Setiap manusia memiliki jalan hidup, ujian, dan garis takdirnya masing-masing”.

Ada satu kebiasaan manusia modern yang cukup menarik. Kita gemar membuat skenario hidup yang begitu rapi, seolah-olah masa depan adalah proyek konstruksi yang tinggal mengikuti gambar kerja. Sejak muda sudah disusun target lima tahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh tahun ke depan. Kapan menikah, kapan punya rumah, kapan pensiun, siapa yang akan menemani hari tua, bahkan siapa yang nanti akan menyuapi ketika tangan mulai gemetar. Masalahnya, kehidupan tidak pernah menandatangani proposal itu.

Jangankan merancang dua puluh tahun mendatang, merancang besok pagi saja sering kali meleset. Kita berniat bangun pukul empat untuk tahajud, ternyata alarm kalah oleh rasa kantuk. Kita berencana bertemu seseorang, mendadak hujan deras. Kita berharap sehat, ternyata demam datang lebih dulu. Hidup selalu menyimpan variabel yang tidak pernah masuk ke dalam spreadsheet manusia. Di sinilah letak kekeliruan sebagian orang. Mereka mengira bahwa rencana normatif adalah hukum kehidupan, padahal ia hanyalah salah satu kemungkinan.

Rencana normatif memang baik karena memberi arah dan menjadi wujud ikhtiar. Namun, ketika rencana itu berubah menjadi keyakinan bahwa “hidup seharusnya begini”, masalah mulai muncul. Lebih parah lagi ketika seseorang seolah ingin mendikte Allah agar menjalankan alam semesta sesuai dengan desainnya sendiri. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini bukan sekadar penghibur bagi orang yang gagal. Ia merupakan koreksi terhadap kesombongan intelektual manusia yang merasa telah memahami seluruh peta kehidupan.

Ambillah contoh tentang masa tua. Dalam berbagai seminar motivasi sering muncul gambaran ideal bahwa masa tua harus ditemani pasangan hidup, dikelilingi anak-anak, lalu menikmati cucu yang berlarian di halaman rumah. Gambaran itu indah dan menghangatkan hati.

Namun realitas berkata lain. Ada orang yang memiliki banyak anak, tetapi hari tuanya justru kesepian. Ada yang hidup hanya berdua dengan pasangan, tetapi dipenuhi kebahagiaan. Ada yang kehilangan pasangan lebih dahulu, namun tetap produktif berkarya hingga akhir hayat. Bahkan ada yang hidup sendiri, tetapi jiwanya jauh lebih tenang dibanding mereka yang tinggal serumah dengan keluarga namun setiap hari dipenuhi pertengkaran.

Ternyata kesendirian tidak identik dengan kesengsaraan, sebagaimana keramaian tidak otomatis melahirkan kebahagiaan. Yang menentukan bukanlah jumlah orang di sekitar kita, melainkan kualitas hubungan kita dengan Allah. Orang yang memiliki daya juang tinggi, hati yang matang, dan tawakal yang kokoh sering kali mampu menjalani kesendirian tanpa merasa menjadi korban kehidupan. Kesendiriannya bukan kesepian, melainkan ruang untuk berdialog dengan dirinya sendiri sekaligus dengan Tuhannya.

Tasawuf sejak lama mengajarkan bahwa manusia memang hidup bersama orang lain, tetapi ketergantungan hati hanya boleh kepada Allah. Ketika hati terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada manusia, setiap perubahan keadaan akan terasa sebagai bencana. Karena itu, menggantungkan seluruh kebahagiaan masa tua pada pasangan atau anak-anak bukan hanya berisiko secara sosial, tetapi juga kurang tepat secara spiritual. Anak adalah amanah, bukan jaminan. Pasangan adalah karunia, bukan kepastian. Harta adalah titipan, bukan benteng kehidupan. Semuanya dapat berubah hanya dalam hitungan detik.

 

Tinggalkan Balasan

Search