Budaya membaca perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Literasi tak sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi berpikir kritis untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Terutama di tengah derasnya arus informasi media sosial saat ini.
Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi Unissula Semarang sekaligus novelis ternama, Habiburrahman El Shirazy, dalam acara parenting bertajuk “Menyemai Cinta dan Harmoni untuk Buah Hati” di Kudus, Sabtu (5/9/2026). Penulis novel Ayat-Ayat Cinta ini menekankan bahwa penguatan literasi memiliki akar sejarah dan spiritual yang kuat dalam ajaran Islam.
“Penguatan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir untuk memecahkan berbagai persoalan. Kalau ingin anak-anak kita sukses, perlu ada penguatan literasi. Ini sudah ditegaskan Allah sejak wahyu pembuka, yaitu Iqra,” ujar Habiburrahman.
Menurut Kang Abik—sapaan akrabnya—perintah Iqra (bacalah) merupakan literasi paling mendasar sekaligus syarat mutlak menuntut ilmu. Tradisi ini terbukti telah membangun peradaban Islam sejak masa Nabi Muhammad saw melalui perantara pena (qalam) dan catatan para sahabat.
Oleh karena itu, membaca tidak boleh berhenti pada tahap menyerap informasi semata, melainkan harus membentuk pemahaman yang utuh (deep learning). Ia mengingatkan para orang tua agar tidak membiarkan anak menggantungkan media sosial sebagai sumber belajar utama.
“Media sosial tidak bisa menggantikan proses pembelajaran mendalam (deep learning) karena karakternya yang serba singkat. Berbeda dengan buku digital, wahana boleh berubah, tetapi substansi membaca utuh tetap tidak tergantikan,” tegasnya.
Peran Penting Orang Tua
Guna membangun budaya literasi yang kuat, Habiburrahman mendorong orang tua untuk konsisten memberikan keteladanan di rumah. Langkah nyata dapat dimulai dari hal sederhana, seperti rutin membacakan cerita, mengajak anak ke perpustakaan, hingga membelikan buku.
“Duluan membaca akan duluan menemukan. Semakin dini anak dikenalkan dengan buku, semakin besar peluang mereka menemukan pengetahuan dan mengembangkan potensinya,” tuturnya.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan fisik. Pendampingan tersebut harus dibarengi dengan nilai keagamaan, doa, dan tawakal kepada Allah Swt. (*/tim)
