Haedar Nashir Tegaskan Pentingnya Pendekatan Irfani

Haedar Nashir
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan pentingnya menyeimbangkan pandangan hidup rasional dengan pendekatan irfani—sebuah pendekatan berbasis zauq yang mengedepankan penguatan pengalaman batin, intuisi, kepekaan nurani, serta kejernihan hati (al-‘ilm al-hudhuri).

Haedar menjelaskan bahwa Manhaj Tarjih Muhammadiyah memiliki tiga pendekatan utama, yakni bayani (tekstual), burhani (kontekstual), dan irfani (intuisi). Namun dalam praktiknya, sebagian besar pimpinan maupun mubalig Muhammadiyah cenderung hanya mengedepankan aspek bayani dan burhani, serta mengabaikan irfani.

“Praktik di lapangan sering memperlihatkan para pimpinan dan mubalig lupa pada ketiga pendekatan tersebut secara utuh. Ada yang hanya fokus pada bayani lalu melupakan burhani, atau sebaliknya. Bahkan, ketika keduanya dipakai, aspek irfani justru kerap terlewatkan,” ujar Haedar saat menghadiri Wisuda Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), akhir pekan lalu.

Menurutnya, beragama yang hanya mengandalkan bayani dan burhani tanpa irfani akan menghilangkan “rasa” dalam beragama. Dampaknya, Muhammadiyah kerap disindir sebagai organisasi yang terlalu rasional, bahkan dianggap tidak mendoakan orang yang meninggal dunia.

Menanggapi anggapan tersebut, Haedar menegaskan bahwa mendoakan orang meninggal merupakan amalan sunah di Muhammadiyah yang memiliki kaifiyah (tata cara) tersendiri.

“Kita tidak perlu mengikuti tradisi yang bermacam-macam di luar ketentuan, tetapi tunaikanlah sesuai Manhaj Tarjih. Mendoakan orang meninggal itu sunah dan ada tata caranya,” jelasnya.

Ia juga menampik tuduhan bahwa warga Muhammadiyah dilarang berduka saat kehilangan orang tercinta. Menurut Haedar, rasa duka merupakan cerminan dari jiwa irfani dan sama sekali tidak merusak ketauhidan seseorang.

“Tidak salah jika warga Muhammadiyah merasa berduka saat anggota keluarga tercinta meninggal. Duka tidak menghilangkan tauhid kita. Jangan sampai ada yang menghakimi orang yang sedang berduka dengan menyebut mereka cengeng,” tegas Haedar.

Oleh karena itu, Haedar berpesan agar pendekatan irfani juga diterapkan dalam gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga dakwah Muhammadiyah tidak hanya berdiri di atas pendekatan teknis dan rasional semata, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan kepekaan batin. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search