Haji Mabrur: Antara Harapan dan Kenyataan

Haji Mabrur: Antara Harapan dan Kenyataan
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan rohani menuju perubahan diri. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur saat seseorang berada di Makkah, tetapi terutama setelah ia kembali ke tanah air. Rasulullah ﷺ bersabda:

> «الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»¹

Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga.”

Kata mabrūr berasal dari akar kata al-birr yang berarti kebaikan, ketulusan, dan ketaatan. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa dan diiringi amal saleh setelahnya.² Karena itu, ukuran kemabruran tidak berhenti pada ritual thawaf, sa’i, atau wukuf, melainkan tampak pada perubahan akhlak dan istiqamah pasca haji.

Para ulama salaf memiliki perhatian besar terhadap tanda-tanda diterimanya amal. Sebagian mereka berkata:

> مِنْ عَلَامَةِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا³

Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah lahirnya kebaikan setelahnya.

Maka, harapan terbesar bagi seorang haji sepulang dari Tanah Suci ialah lahirnya pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih lembut kepada sesama, dan lebih bersih dalam muamalah. Ia menjaga shalatnya, lisannya, amanahnya, serta semakin ringan tangan membantu orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan:

> ﴿فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ﴾⁴

Tidak boleh rafats, kefasikan, dan perdebatan dalam haji.”

Ayat ini bukan hanya etika selama ihram, tetapi pendidikan rohani agar seorang haji meninggalkan kebiasaan buruk dalam kehidupan setelahnya. Sebab sangat ironis apabila seseorang pulang dengan gelar “pak haji”, tetapi tetap gemar menyakiti orang lain, bermudah-mudah dalam kebohongan, atau masih tenggelam dalam kemaksiatan yang sama.

Realitasnya, tidak semua orang yang berhaji otomatis menjadi lebih baik. Ada yang berubah, ada pula yang hanya berganti penampilan lahiriah. Karena itu, para ulama mengingatkan bahwa haji mabrur lebih dekat kepada perubahan hati daripada sekadar perubahan simbol sosial. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata:

> الْحَجُّ الْمَبْرُورُ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ⁵

Haji mabrur ialah seseorang kembali dengan sikap zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”

Indikator kemabruran dalam Islam antara lain ialah meningkatnya kualitas ibadah, membaiknya akhlak sosial, tumbuhnya rasa takut kepada Allah, serta konsistensi dalam amal saleh. Jika dahulu mudah marah lalu menjadi lebih sabar, dahulu lalai lalu lebih menjaga shalat berjamaah, dahulu keras hati lalu menjadi penyayang, maka itulah tanda-tanda keberkahan haji mulai berbuah.

Karena itu, para ulama menasihati agar sepulang haji seseorang tidak hanya sibuk mengenang perjalanan spiritualnya, tetapi menjaga ruh ibadah tersebut sepanjang hidupnya. Sebab haji sejati bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah, melainkan perjalanan panjang menuju ridha Allah. (*)

Catatan Kaki:

1. Sahih al-Bukhari, Kitāb al-‘Umrah, no. 1773; Sahih Muslim, Kitāb al-Ḥajj, no. 1349.
2. Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, t.t.), 9:119.
3. Diriwayatkan dalam atsar para salaf; lihat Ibn Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2001), 1:220.
4. QS. al-Baqarah [2]: 197.
5. Disebutkan oleh Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 1:261.

 

Tinggalkan Balasan

Search