#Ketika Otak Menipu Kita tentang Waktu, Usia dan Kematian
Kita tahu kematian pasti datang, tetapi sering hidup seolah-olah masih memiliki banyak waktu. Kita membuat rencana bertahun-tahun dan berkata, “Nanti saja.” Padahal “nanti” bukan janji, melainkan kemungkinan. Secara psikologis, kecenderungan ini disebut optimism bias: kita membayangkan masa depan lebih baik, lebih sehat, dan lebih panjang daripada kenyataan yang mungkin terjadi.
Otak Kita Tidak Dirancang untuk Setiap Saat Memikirkan Kematian
Kematian pasti, tetapi waktunya tidak pasti. Kita memiliki jam dan kalender, tetapi tidak kalender kematian. Rutinitas membuat hidup terasa normal sehingga kita mudah menganggapnya akan berlangsung lama. Padahal, normal tidak berarti abadi.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Kematian Tidak Selalu Datang Setelah Rambut Memutih
Kematian tidak membaca KTP. Orang muda dan sehat dapat berpamitan bekerja lalu mengalami kecelakaan. Orang sehat dapat tidur seperti biasa tetapi tidak pernah bangun lagi. Pesawat yang berangkat pun tidak selalu sampai tujuan. Semua orang memiliki rencana, tetapi tidak memiliki jaminan untuk sampai kepadanya. Karena itu, orang sehat tidak boleh terlalu aman, orang sakit tidak boleh kehilangan harapan, dan orang muda tidak boleh merasa waktunya pasti panjang. Selama napas masih ada, pintu amal masih terbuka.
Ilusi Bahwa Kita Mengendalikan Waktu
Kita dapat merencanakan, tetapi tidak dapat memastikan. Islam mengajarkan ikhtiar sekaligus kesadaran bahwa hasil berada dalam ketetapan Allah.
“…jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali dengan mengatakan, ‘Insyaa Allah.’ ” QS. Al-Kahfi 23–24
Insyaa Allah mengingatkan bahwa rencana manusia selalu bertemu dengan kehendak Allah..
Umur Panjang Belum Tentu Hidup yang Panjang
Tujuan hidup bukan sekadar menambah tahun, tetapi memperbaiki kualitas amal.
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk 2).
Ada umur biologis dan umur maknawi. Ilmu, tulisan, sedekah dan anak saleh dapat menjadi jejak yang terus memberi manfaat setelah kita meninggal. Rasulullah ﷺ menyebut tiga amal yang terus mengalir: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. (HR. Muslim). Maka pertanyaannya bukan hanya “Berapa lama saya hidup?”, tetapi “Untuk apa sisa hidup saya digunakan?”
Jangan Menunggu Hidup Menjadi Sempurna
Kita sering berkata, “Nanti kalau kaya, pensiun, atau pekerjaan selesai.” Padahal hidup tidak pernah benar-benar sempurna. Jika ibadah, silaturahmi, meminta maaf dan berbuat baik selalu menunggu waktu ideal, kita bisa kehabisan waktu. Rencanakan masa depan, tetapi jangan kehilangan hari ini. Bekerja untuk esok, tetapi tetap hadir untuk keluarga dan orang-orang yang kita cintai.
Kematian Bukan Alasan untuk Takut Hidup
Mengingat kematian bukan berarti membenci kehidupan. Justru ia mengajarkan kita menghargai keluarga, kesempatan meminta maaf, bersedekah dan beribadah. Dunia boleh dinikmati, harta dicari dan karier dibangun, tetapi jangan sampai semuanya membuat kita lupa bahwa dunia bukan tempat tinggal terakhir.
Besok Belum Tentu Milik Kita
Hari ini bisa menjadi hari biasa. Bisa pula menjadi hari terakhir. Kita tidak benar-benar memiliki besok. Yang kita miliki adalah hari ini—sebuah amanah. Maka rencanakan masa depan seperti manusia yang akan hidup lama, tetapi jalani hari ini seperti manusia yang sadar bahwa waktunya tidak dijamin. Hidup bukan perlombaan siapa yang paling lama bertahan, melainkan kesempatan untuk menjadi sebaik mungkin sebelum kesempatan itu berakhir. Pada akhirnya, kematian mendadak adalah cermin bagi kita yang masih hidup:
Sudahkah kita menggunakan waktu? Berdamai dengan orang yang kita cintai? Meminta ampun kepada Allah? Meninggalkan manfaat sebelum kita tiada?. Tidak seorang pun tahu apakah esok menjadi halaman baru—atau halaman terakhir. Karena itu, hari ini adalah halaman yang sangat berharga. (*)
