Haul Pemikiran: Merawat Sanad Keilmuan dan Ideologi Gerakan

Fathurrahman Kamal dan Syamsul Anwar.
*) Oleh : Fathurrahman Kamal
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Alhamdulillah, pada 31 Agustus 2026, saya berkesempatan menghadiri peluncuran buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar.” Acara ini bukan sekadar penghormatan terhadap perjalanan seorang ulama, tetapi juga menghadirkan refleksi penting tentang bagaimana sebuah gerakan merawat tradisi keilmuan dan menghargai para pemikirnya.

Dalam pengantarnya, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Ustadi Hamsah, menegaskan bahwa kegiatan semacam ini tidak dimaksudkan sebagai pengkultusan individu. Ia merupakan bentuk penghargaan terhadap keilmuan, kepakaran, dan pengabdian seorang tokoh sekaligus ikhtiar meneruskan legacy intelektualnya kepada generasi berikutnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, bahkan mengingatkan bahwa tradisi egaliter Muhammadiyah tidak seharusnya menghilangkan sikap ta‘ẓīm kepada orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu.

Mendengar penjelasan itu, saya bergurau kepada beberapa sahabat di Majelis Tarjih dan Tajdid: barangkali Muhammadiyah perlu memiliki tradisi “haul pemikiran” yang diselenggarakan secara berkala.

Istilah “haul” di sini tentu tidak dimaksudkan sebagai ritual pengkultusan seseorang. Yang saya maksud adalah sebuah majelis intelektual untuk membaca kembali, mendaras, mengkaji, dan mengkritisi warisan pemikiran para ulama, pemikir, ideolog, dan tokoh gerakan Muhammadiyah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mengapa hal semacam ini penting? Pertama, sebuah gerakan besar memerlukan sanad pemikiran. Generasi penerus tidak boleh hanya mengetahui Muhammadiyah dalam bentuk struktur organisasi, keputusan administratif, dan program kerja kontemporer. Mereka perlu memahami dari mana gagasan-gagasan gerakan itu berasal, problem sejarah apa yang melahirkannya, siapa yang merumuskannya, serta bagaimana pemikiran tersebut mengalami perkembangan dan kontekstualisasi.

Dengan demikian, sanad tidak hanya berlaku dalam transmisi teks dan ilmu keagamaan, tetapi dalam pengertian yang lebih luas juga diperlukan dalam transmisi etos intelektual, ideologi, dan orientasi gerakan.

Tanpa kesadaran terhadap sanad semacam itu, sebuah organisasi mungkin tetap besar secara institusional, tetapi secara perlahan dapat mengalami keterputusan memori intelektual. Generasi berikutnya mengenal nama organisasinya, tetapi tidak lagi memahami logika pemikirannya; meneruskan aktivitasnya, tetapi kehilangan akar epistemologis dan historisnya.

Karena itu, “haul pemikiran” dapat berfungsi sebagai ruang untuk menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan gerakan. Bukan untuk membekukan pemikiran para pendahulu menjadi doktrin yang tidak boleh disentuh kritik, melainkan justru untuk memahami mereka secara lebih otentik sebelum melakukan pembaruan.

Kedua, terdapat dimensi etik dan spiritual dalam mengenang orang-orang berilmu dan saleh. Sufyān ibn ‘Uyaynah, salah satu guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, dikenal dengan ungkapannya:

عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ

“Ketika orang-orang saleh dikenang, rahmat Allah itu turun.” (Al Hafidz Abu Nuaim. Hilyatul Auliyā’, 7/285).

Menariknya, Ibnu Taymiyyah memberikan penjelasan yang sangat rasional terhadap ungkapan tersebut dalam al-Ṣafadiyyah. Ia menulis bahwa kesempurnaan manusia tidak terwujud kecuali dengan ilmu, kemampuan, dan kehendak yang akarnya adalah cinta:

والكمال لا يحصل إلا بالعلم والقدرة والإرادة التي أصلها المحبة وحيث كان الإنسان يلتذ بالعلم فلا بد أن تكون هناك محبة لما يلتذ به. فتارة يكون المعلوم محبوبا يلتذ بعلمه وذكره كما يلتذ المؤمنون بمعرفة الله وذكره بل ويلتذون بذكر الأنبياء والصالحين ولهذا يقال عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة بما يحصل في النفوس من الحركة إلى محبة الخير والرغبة فيه والفرح به والسرور واللذة

Intinya, pengetahuan yang dicintai akan menimbulkan kenikmatan ketika diketahui dan diingat. Karena itulah orang-orang beriman menikmati ma‘rifat dan zikrullah, sekaligus memperoleh kegembiraan ketika mengenang para nabi dan orang-orang saleh.

Ibnu Taymiyyah kemudian menjelaskan bahwa ungkapan “ketika orang-orang saleh dikenang, rahmat turun” berkaitan dengan apa yang muncul di dalam jiwa berupa gerakan menuju kecintaan kepada kebaikan, keinginan untuk melakukannya, kegembiraan, dan ketenteraman karenanya (al-Ṣafadiyyah, jil. II, hlm. 269).

Dengan perspektif ini, “turunnya rahmat” dapat dipahami bukan sekadar secara seremonial. Ketika kisah kesungguhan seorang alim dipelajari, kesungguhan itu dapat membangkitkan kesungguhan pada generasi berikutnya. Ketika integritas seorang tokoh dibaca kembali, integritas itu menjadi cermin etik. Ketika keberanian intelektual para pendahulu didiskusikan, ia dapat menggerakkan keberanian intelektual generasi sesudahnya.

Di sinilah saya membayangkan “haul pemikiran” dalam pengertian yang khas: bukan sekadar menceritakan keutamaan personal, tetapi membedah perjalanan intelektual seseorang; buku yang ditulisnya, gagasan yang diperjuangkannya, perdebatan yang dihadapinya, metodologi berpikir yang dikembangkannya, bahkan kekeliruan dan keterbatasan yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya.

Kita dapat melakukan hal yang sama terhadap para ulama, ideolog, dan pemikir Muhammadiyah dari berbagai generasi. Pemikiran mereka tidak cukup dipajang dalam museum sejarah atau dikutip sesekali pada momentum tertentu. Ia perlu dibaca, ditelaah, didialogkan, dikritik, dan dikembangkan.

Sebab penghormatan tertinggi kepada seorang pemikir bukanlah mengabadikan namanya. Penghormatan tertinggi adalah memastikan pemikirannya tetap dipelajari, diperiksa secara kritis, dikembangkan, dan melahirkan pemikiran baru.

Dengan cara itulah sanad keilmuan tidak berubah menjadi nostalgia. Ia menjadi mata rantai yang hidup: menghubungkan kebijaksanaan para pendahulu dengan persoalan zaman sekarang dan mempersiapkan lahirnya generasi yang sanggup menjawab persoalan masa depan.

Maka “haul pemikiran” sejatinya bukanlah perjalanan kembali ke masa lalu. Ia adalah ikhtiar menjaga agar sebuah gerakan tidak kehilangan ingatan intelektualnya ketika berjalan menuju masa depan.

Karena gerakan yang kehilangan sanad pemikirannya berisiko kehilangan akar; sedangkan gerakan yang hanya menjaga akar tanpa menumbuhkan cabang-cabang pemikiran baru akan kehilangan masa depan. Wallāhu A’lamu bish Shawāb.

 

Tinggalkan Balasan

Search