Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk melepaskan diri dari kejumudan (kaku) berpikir dalam beragama.
Menurut sosok yang akrab disapa Gusbach ini, Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah agama yang mencerahkan akal, menguatkan tauhid, sekaligus mendorong kemajuan peradaban.
Hal tersebut ditegaskan Gusbach dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Al-Manar, Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Ahad (12/7/2026). Di hadapan ratusan jemaah, ia menekankan bahwa kehadiran Islam tidak hanya berfungsi menerangi hati, tetapi juga membangun nalar kritis umat.
“Islam Berkemajuan yang dipromosikan Muhammadiyah bukan sekadar narasi, melainkan aksi nyata di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pengajian seperti ini adalah inovasi tradisi untuk mendekatkan sumber ilmu dengan umat, sehingga pencerahan bisa menjangkau masyarakat lebih luas,” ujar Gusbach.
Menuntut Ilmu dan Memurnikan Akidah
Dalam tausiyahnya, Gusbach menggarisbawahi bahwa menuntut ilmu adalah jalan utama keluar dari stagnasi berpikir. Ia mengimbau umat Islam untuk memiliki cara pandang yang terbuka dan tercerahkan agar tidak mudah terjebak pada mitos, takhayul, maupun praktik yang menyimpang dari ajaran Islam. Kemurnian akidah, lanjutnya, merupakan fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang maju.
“Tauhid kita harus benar-benar mencerminkan ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Jangan menduakan Allah. Jika akidah sudah kokoh, umat akan melangkah maju menuju masa depan tanpa rasa takut yang tidak berdasar,” tegasnya.
Selain aspek spiritual, Gusbach juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
“Jika ekonomi umat kuat, tangan kita akan selalu di atas—memberi, bukan meminta. Saya sangat mendukung jika pengajian Muhammadiyah juga diintegrasikan sebagai ruang pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan memberi panggung bagi UMKM jemaah agar tercipta perputaran ekonomi yang maslahat,” tambahnya.
Menutup tausiyahnya, Gusbach mengingatkan bahwa beragama harus dijalani dengan penuh kegembiraan. Pengajian tidak boleh sekadar menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga harus menjadi sarana memperkuat optimisme, mempererat ukhuwah, dan menjaga kesehatan mental jemaah di tengah dinamika zaman.
Melalui sinergi antara dakwah yang mencerahkan dan pemberdayaan riil, Muhammadiyah diharapkan terus konsisten menghadirkan Islam yang membawa kemajuan (rahmatan lil ‘alamin) bagi seluruh umat manusia. (*/tim)
