“Bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)
Lisan adalah cermin hati.
Apa yang keluar dari mulut, sering kali memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya.
Semakin bertakwa seseorang, semestinya semakin santun tutur katanya. Sebab takwa bukan hanya tampak dalam panjangnya doa dan banyaknya ibadah, tetapi juga dalam cara kita berbicara kepada sesama. .
Ada ungkapan:
“Anta kaifa taqul” — kamu adalah apa yang keluar dari mulutmu.
Kata-kata memang tidak bertulang, tetapi ia mampu mematahkan hati. .
Tidak berdarah, tetapi mampu meninggalkan luka.
Tidak terlihat, tetapi bekasnya kadang jauh lebih lama daripada luka di tubuh. .
Rasulullah ﷺ mengingatkan agar seseorang menjaga lisannya. Sebab keselamatan manusia sangat erat kaitannya dengan kemampuannya mengendalikan apa yang ia ucapkan.
Maka, berhati-hatilah ketika menyampaikan informasi.
Jangan semua yang kita dengar harus disebarkan.
Jangan semua yang kita tahu harus diumbar.
Dan jangan menjadikan dugaan sebagai kebenaran. .
Sebelum berbicara, tanyakan kepada hati:
Benarkah ini?
Perlukah ini disampaikan?
Baikkah dampaknya bagi orang lain? .
Sebab satu kalimat yang salah dapat menimbulkan fitnah, memecah persaudaraan, dan menjadi dosa yang terus mengalir meski kita telah lupa pernah mengucapkannya.
Jaga lisan, karena setiap kata adalah amanah.
Jaga ucapan, karena setiap perkataan akan dimintai pertanggungjawaban.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menjaga lisan kita dari dusta dan fitnah, serta melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya kepada kita semua.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin. 🤲
