Muhammadiyah terus menunjukkan lompatan besar sebagai gerakan Islam berkemajuan. Ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi tumbuh pesat dan menjadi bukti nyata kontribusi organisasi dalam membangun bangsa.
Namun, kemajuan fisik tersebut dinilai akan kehilangan makna jika tidak dibarengi dengan penguatan ideologi di kalangan kadernya.
Hal itu ditegaskan oleh Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumberdaya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, dalam acara Baitul Arqam Calon Panitia Tanwir Muhammadiyah di Kota Palu, Kamis (18/6/2026).
“Capaian ber-Muhammadiyah akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan pemahaman yang kuat terhadap ideologi Persyarikatan. Keberhasilan mengelola amal usaha atau menduduki jabatan struktural bisa hampa jika kita lupa pada tujuan dasar Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar,” ujar Bachtiar.
Baitul Arqam Jadi Benteng Ideologis
Bachtiar yang juga menjabat sebagai Sekretaris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menjelaskan bahwa esensi kekuatan Muhammadiyah tidak sekadar diukur dari aset atau luasnya jaringan organisasi. Kekuatan utama justru terletak pada nilai dan semangat perjuangan para kadernya.
Oleh karena itu, penyelenggaraan Baitul Arqam menjadi krusial sebagai wahana pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai Persyarikatan.
- Bagi Peserta Baru: Kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah, kepribadian, sistem organisasi, dan arah perjuangan Muhammadiyah secara komprehensif.
- Bagi Peserta Lama: Forum ini berfungsi sebagai penyegaran dan penguatan komitmen.
Bachtiar mengibaratkan pengulangan materi dalam Baitul Arqam seperti pesan dalam Surah Al-Ashr—surah pendek yang terus diulang-ulang umat Islam karena mengandung nilai fundamental tentang keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya kompeten dan profesional di bidangnya, tetapi juga kokoh secara ideologis.
Dengan perpaduan antara profesionalisme dan kekuatan ideologi, Muhammadiyah diyakini akan terus mampu menjaga jati dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan yang memberi maslahat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. (*/tim)
