Pernah nggak kamu merasa tenang…
sampai kamu melihat seseorang yang “lebih”?
Lebih sukses.
Lebih mapan.
Atau sekadar… terlihat lebih bahagia.
Dan tiba-tiba, rasa tenang itu hilang.
Membandingkan diri sering dianggap sebagai kelemahan.
Padahal, dalam ilmu psikologi dan neurosains, ini adalah sesuatu yang alami.
Manusia memang diciptakan dengan kecenderungan untuk menilai dirinya melalui orang lain.
Ini disebut social comparison.
Dari sisi otak, perbandingan ini membantu kita mengetahui posisi diri, mengevaluasi perkembangan, dan mengambil keputusan
Namun masalah muncul ketika perbandingan itu tidak terkontrol. Otak mulai fokus pada kekurangan, membesar-besarkan kelebihan orang lain, dan mengecilkan apa yang kita miliki.
Akibatnya, yang muncul bukan motivasi…
tapi justru rasa tidak cukup, iri, dan lelah secara emosional.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ sudah memberikan panduan yang sangat jelas:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar nasihat, tetapi solusi terhadap cara kerja pikiran manusia.
Islam tidak melarang kita melihat orang lain.
Tapi mengarahkan bagaimana cara melihatnya.
Jika kita hanya melihat ke atas, maka kita akan terus merasa kurang.
Namun jika kita belajar melihat ke bawah, hati akan lebih mudah merasa cukup.
Maka kuncinya bukan berhenti melihat orang lain. Tapi mengatur arah pandangan kita.
Karena ternyata…
ketenangan itu bukan soal siapa yang lebih, tapi tentang siapa yang mampu merasa cukup. (*)
