Kesederhanaan Pemimpin: Asli atau Artifisial?

Kesederhanaan Pemimpin: Asli atau Artifisial?
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial, Alumni STKS Bandung & Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Sebuah foto beredar luas di jagat maya: seorang pemimpin organisasi besar Islam, sedang naik kereta api tanpa pengawalan ataupun kamera khusus. Di depan tempat duduknya, ada koper tua yang tampak lecet di beberapa titik.

Foto tersebut spontan mengundang reaksi warganet di kolom komentar. Banyak yang memberikan apresiasi positif dan memuji kesederhanaannya. Ada pula yang ingin menjadikannya role model, bahkan ada yang membandingkan dengan aset organisasi yang dipimpin yang nilainya mencapai triliunan.

Jika ditarik dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, muncul pertanyaan: kalau yang difoto itu pejabat publik atau tokoh partai politik, apakah reaksi warganet akan sama?

Perlu disadari, menilai orang hanya dari penampilan itu mudah salah. Sering kali kita tertipu ‘simbol’ kesederhanaan yang sengaja ditampilkan.

Sebenarnya wajar kalau kita berharap banyak pada pemimpin. Saat diberi amanah melayani umat, tentu kita ingin dia membawa perubahan. Namun masalahnya, harapan itu sering berhenti di permukaan, yaitu penampilan.

Sekadar melihat pakaian bersahaja, tanpa jam tangan, dan pakai sepatu produk lokal, kita langsung mengambil kesimpulan: “Pemimpin ini sederhana, amanah, dan nggak ‘kedunyan’. Pemimpin ini pasti merakyat.”

Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Di sinilah jebakannya. Kita menyamakan simbol dengan substansi. Bukankah penampilan bisa diatur, kata-kata bisa dilatih, dan citra bisa dibeli? Seharusnya yang dilihat adalah maksud dan tujuan di balik semua itu.

Seperti yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
Suatu ketika, ada seorang lelaki yang memuji orang lain di hadapan Umar.
Sang Khalifah lantas bertanya apakah ia pernah bertetangga dekat, melakukan perjalanan jauh bersama, atau bertransaksi bisnis dengan orang yang ia puji tersebut.

Saat si lelaki menjawab: “Tidak”, dan mengaku hanya melihat orang itu rajin beribadah di masjid, Umar langsung menegur keras: “Engkau tidak tahu siapa dia. Engkau hanya melihatnya ruku’ dan sujud!”

Pesan Umar bin Khattab sangat jelas bagi kita hari ini: rekam jejak nyata dalam interaksi sosial jauh lebih valid daripada sekadar kesalehan yang tampak di depan mata. Dalam konteks ini, kita bisa belajar untuk tidak lagi mengambil jalan pintas menilai pemimpin.

Namun ujung-ujungnya, manusia itu memang mudah mengambil jalan pintas saat menilai orang. Lihat baju sederhana, langsung dicap orang baik. Lihat baju bagus, langsung dicap sombong. Padahal hal tersebut belum tentu benar.

Makanya banyak pemimpin sengaja tampil sederhana saat ingin dipilih. Bukan karena hidupnya memang begitu, tetapi karena tahu publik mudah percaya kalau melihatnya begitu seperti senyatanya. Inilah yang dalam perspektif sosiologi disebut sebagai “panggung depan”. Orang menampilkan versi terbaiknya saat ada penonton.

Tapi perlu dipahami juga, kata “sederhana” tidak bisa dibuang begitu saja hanya karena sering dipalsukan, sebab kesederhanaan yang asli memang sangat diperlukan. Bukan untuk pentas politik, bukan untuk meraih simpati, melainkan karena memang karakter yang dimiliki.

Kesederhanaan yang asli muncul justru saat di balik panggung, saat tak ada lagi sorotan kamera, bisa diukur dari cara berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan rumahnya.

Dari cara ia menolak fasilitas yang bukan haknya, dari cara ia bicara dengan tukang sapu sama seperti ia bicara dengan menteri. Di situlah kesederhanaan berkelindan dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kostum untuk naik panggung.

Tidak heran jika Prof. Haedar Nashir dijadikan warganet sebagai role model. Foto beliau naik kereta dengan koper tua itu bukan pertama kali. Orang-orang yang dekat dengannya dan warga Muhammadiyah tahu benar bahwa gaya hidup sederhana itu memang sudah jadi kebiasaan lama, bukan baru muncul saat viral.

Di sinilah bedanya. Kalau sederhana hanya muncul saat ada kamera, itu artifisial. Tapi kalau sederhana itu tetap sama saat sendiri, saat di rumah, saat tidak ada yang melihat, itu baru asli dan layak jadi teladan.

Pejabat publik atau tokoh partai politik perlu belajar dari sini: kepercayaan publik dibangun dari konsistensi, bukan dari satu foto viral. Masyarakat butuh melihat contoh nyata kesederhanaan yang tidak berpura-pura, supaya punya pembanding ketika berhadapan dengan versi palsunya.

Pemimpin seperti ini tidak sibuk menghitung berapa kali ia difoto saat makan di warung. Ia juga tidak merasa rugi ketika tidak ada yang melihatnya menolak untuk menggunakan mobil dinas. Kesederhanaan baginya bukan strategi politik, tapi konsekuensi logis dari keyakinan bahwa jabatan adalah titipan, bukan hadiah.

Ironisnya, justru karena tidak mencari panggung, nama dan sikapnya sering kali lebih lama diingat. Bukan karena viral, tapi karena konsisten. Dan konsistensi itu hanya bisa diuji di luar panggung, di sendi kehidupan sehari-hari yang tidak punya penonton.

Kesimpulannya, kesederhanaan yang benar itu berkelanjutan. Bukan hanya saat ada kamera, bukan hanya saat pidato di depan publik. Di situlah letak ujian seorang pemimpin. Bukan di panggung, tapi di lingkungan sendiri yang tidak diketahui publik. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search