Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid)
Founder OMAH NgOPI - Gerakan Literasi untuk Peradaban Tauhidik
www.majelistabligh.id -

Ada kalanya manusia terlalu sibuk berbicara sehingga lupa mendengarkan.

Kita berbicara tentang kehidupan, tentang kesuksesan, tentang masa depan, tentang ketakutan, tentang keinginan, bahkan tentang Tuhan. Tetapi barangkali ada satu hal yang semakin jarang kita lakukan: berhenti sejenak untuk mendengarkan semesta.

Padahal, alam tidak pernah benar-benar diam.

Langit berbicara melalui keluasan. Matahari berbicara melalui cahaya. Malam berbicara melalui kesunyian. Hujan berbicara melalui kehidupan yang ditumbuhkannya. Kematian pun berbicara melalui kefanaan.

Alam berbisik.

Tetapi persoalannya, tidak semua manusia mampu mendengarkannya.

Barangkali bukan karena semesta terlalu sunyi, melainkan karena kehidupan kita terlalu bising.

Kita hidup di tengah suara yang tidak pernah berhenti. Notifikasi, berita, percakapan, media sosial, pekerjaan, ambisi, dan berbagai tuntutan kehidupan membuat manusia semakin sibuk menerima suara dari luar. Namun, di tengah semua itu, kita justru kehilangan kemampuan untuk mendengar suara yang lebih dalam: bisikan ayat-ayat Tuhan yang terbentang di seluruh alam.

Alam Tidak Diam

Kita sering menganggap alam sebagai sesuatu yang pasif. Gunung hanyalah gunung. Langit hanyalah langit. Hujan hanyalah hujan. Matahari hanyalah benda langit yang memberikan cahaya.

Tetapi bagi manusia yang belajar membaca, semuanya dapat menjadi lebih dari sekadar benda.

Ia menjadi ayat.

Matahari adalah ayat. Bulan adalah ayat. Bintang-bintang adalah ayat. Pergantian malam dan siang adalah ayat. Kehidupan adalah ayat. Kematian adalah ayat. Bahkan manusia sendiri adalah ayat yang berjalan.

Karena itu, alam bukan sekadar ruang tempat manusia tinggal. Alam adalah ruang makna.

Ia berbicara bukan dengan suara yang dapat direkam telinga, tetapi dengan tanda-tanda yang dapat dibaca oleh kesadaran.

Maka mungkin benar untuk mengatakan:

الْكَوْنُ لَا يَصْمُتُ، وَلَكِنَّنَا لَا نُحْسِنُ الْإِصْغَاءَ

Alam semesta tidak diam, tetapi kitalah yang belum pandai mendengarkan.

Di sinilah manusia harus kembali belajar.

Belajar melihat.

Belajar mendengar.

Belajar berpikir.

Dan, yang lebih penting, belajar membaca.

Manusia adalah Pembaca Semesta

Manusia bukan hanya makhluk yang membaca buku.

Sejak awal kehidupannya, manusia sebenarnya adalah pembaca.

Ia membaca wajah ibunya.

Ia membaca senyuman dan kesedihan.

Ia membaca keadaan.

Ia membaca pengalaman.

Ia membaca sejarah.

Ia membaca kehidupan.

Dan sepanjang hidupnya, ia berusaha membaca dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Search