Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid)
Founder OMAH NgOPI - Gerakan Literasi untuk Peradaban Tauhidik
www.majelistabligh.id -

Perhatikan: bukan hanya bacalah.

Tetapi:

Bacalah dengan nama Tuhanmu.

Inilah orientasi.

Manusia membaca dunia, tetapi tidak kehilangan Tuhan.

Manusia mempelajari alam, tetapi tidak berhenti pada alam.

Manusia menggunakan akalnya, tetapi tidak menjadikan akal sebagai tuhan.

Manusia mencari ilmu, tetapi tidak kehilangan hikmah.

Maka pembacaan yang benar adalah perjalanan:

مِنَ الْآيَةِ إِلَى الْخَالِقِ

Dari ayat menuju Sang Pencipta.

Dari tanda menuju Makna.

Dari makhluk menuju Al-Khaliq.

Dari alam menuju Rabbul ‘Alamin.

Jalan Pembacaan Manusia

Barangkali seluruh perjalanan manusia dapat diringkas dalam sebuah alur sederhana:

الْكَوْنُ يَهْمِسُ

Alam berbisik.

⬇️

وَالْقَلْبُ يُصْغِي

Hati mendengarkan.

⬇️

وَالْعَقْلُ يَتَفَكَّرُ

Akal berpikir dan merenung.

⬇️

وَالْوَحْيُ يَهْدِي

Wahyu memberi petunjuk.

⬇️

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu.

Inilah perjalanan pembacaan.

Bukan hanya membaca untuk mengetahui.

Tetapi membaca untuk memahami.

Bukan hanya memahami untuk menguasai.

Tetapi memahami untuk menemukan makna.

Dan bukan hanya menemukan makna.

Tetapi akhirnya kembali kepada-Nya.

Ketika Dua Pembacaan Bertemu

Ada pembacaan terhadap alam.

Dan ada pembacaan terhadap wahyu.

Ketika keduanya dipertentangkan, manusia sering kehilangan keseimbangan.

Ada yang hanya melihat alam tetapi kehilangan makna.

Ada pula yang berbicara tentang wahyu tetapi tidak lagi tertarik membaca realitas.

Padahal manusia membutuhkan keduanya.

Alam membuka mata.

Wahyu memberi cahaya.

Alam menghadirkan pertanyaan.

Wahyu memberikan petunjuk.

Akal mencari.

Hati merasakan.

Wahyu membimbing.

Dan ketika semua itu bertemu, manusia menemukan bahwa hidupnya tidak lagi sekadar perjalanan dari satu hari ke hari berikutnya.

Ia sedang membaca sebuah kitab besar.

Kitab yang terbentang di langit.

Kitab yang tumbuh di bumi.

Kitab yang bergerak dalam sejarah.

Dan kitab yang paling dekat:

dirinya sendiri.

Kembali kepada Sang Pencipta

Pada akhirnya, manusia akan menyadari bahwa ia tidak mampu mengendalikan segala sesuatu.

Ada kesedihan yang tidak dapat dihindari.

Ada kehilangan yang tidak dapat dicegah.

Ada masa depan yang tidak dapat dipastikan.

Ada kelemahan yang terus mengingatkan manusia bahwa dirinya adalah makhluk.

 

Tinggalkan Balasan

Search