Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid)
Founder OMAH NgOPI - Gerakan Literasi untuk Peradaban Tauhidik
www.majelistabligh.id -

Karena itu, manusia dapat disebut:

الْإِنْسَانُ قَارِئُ الْوُجُودِ

Manusia adalah pembaca eksistensi.

Ia membaca langit dan bumi. Ia membaca masa lalu dan masa depan. Ia membaca manusia lain. Bahkan pada akhirnya, ia harus belajar membaca dirinya sendiri.

Sebab manusia bukan hanya pembaca teks.

الْإِنْسَانُ لَيْسَ فَقَطْ قَارِئًا لِلنُّصُوصِ، بَلْ هُوَ نَصٌّ يَحْتَاجُ إِلَى قِرَاءَةٍ.

Manusia bukan hanya pembaca teks, tetapi ia sendiri adalah sebuah teks yang membutuhkan pembacaan.

Betapa banyak manusia yang mengenal dunia tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.

Ia tahu banyak tentang orang lain, tetapi tidak memahami ketakutannya sendiri.

Ia mampu membaca sejarah bangsa-bangsa, tetapi tidak mampu membaca sejarah luka dalam dirinya.

Ia memahami teori kehidupan, tetapi tidak tahu ke mana sebenarnya hidupnya sedang berjalan.

Karena itu, perjalanan membaca yang paling panjang bukan hanya perjalanan menuju perpustakaan.

Tetapi juga perjalanan menuju diri sendiri.

Alam Berbisik, Hati Mendengarkan

Tidak semua pembacaan dilakukan dengan mata.

Ada hal-hal yang tidak cukup hanya dilihat, tetapi harus dirasakan.

Di sinilah hati memiliki perannya.

Ketika seseorang berdiri di hadapan langit malam yang penuh bintang, mungkin ia dapat menghitung sebagian benda langit. Akalnya bekerja. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan banyak hal.

Tetapi ada sesuatu yang terkadang tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka: rasa takjub.

Mengapa manusia bisa merasa kecil ketika melihat langit?

Mengapa ia dapat merasakan ketenangan ketika mendengar hujan?

Mengapa keindahan alam dapat mengguncang batinnya?

Karena manusia bukan hanya akal.

Ia juga memiliki hati.

Maka perjalanan pembacaan dimulai dari kemampuan untuk mendengarkan:

الْكَوْنُ يَهْمِسُ، وَالْقَلْبُ يُصْغِي

Alam berbisik, dan hati mendengarkan.

Hati menangkap makna yang terkadang tidak dapat dijelaskan dengan cepat.

Ia merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Bahwa kehidupan bukan sekadar kumpulan peristiwa tanpa arah.

Bahwa keteraturan tidak selalu terasa seperti kebetulan.

Bahwa keindahan sering kali membawa manusia kepada pertanyaan yang lebih dalam.

Dan pertanyaan itulah yang kemudian menggerakkan akal.

Akal Berpikir

Jika hati mendengarkan, maka akal mulai bertanya.

 

Tinggalkan Balasan

Search