Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Tuhan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid)
Founder OMAH NgOPI - Gerakan Literasi untuk Peradaban Tauhidik
www.majelistabligh.id -

Bagaimana semuanya bekerja?

Mengapa alam memiliki keteraturan?

Bagaimana kehidupan tumbuh?

Bagaimana tubuh manusia bekerja?

Bagaimana matahari, bulan, dan bumi bergerak dalam keteraturan yang begitu menakjubkan?

Di sinilah manusia berpikir.

وَالْعَقْلُ يَتَفَكَّرُ

Dan akal merenung serta berpikir.

Akal membaca pola.

Akal mencari hubungan.

Akal meneliti sebab.

Akal mencoba memahami hukum-hukum yang bekerja dalam kehidupan.

Maka berpikir bukanlah lawan dari iman.

Justru berpikir dapat menjadi bagian dari perjalanan manusia dalam membaca tanda-tanda.

Masalahnya bukan pada akal.

Masalahnya adalah ketika akal merasa bahwa dirinya tidak membutuhkan apa pun selain dirinya sendiri.

Sebab akal mampu membaca banyak hal, tetapi ia tetap membutuhkan orientasi.

Akal dapat menemukan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi pertanyaan tentang makna dan tujuan selalu membawa manusia ke wilayah yang lebih dalam.

Di sinilah manusia membutuhkan cahaya.

Wahyu Mengajarkan Cara Membaca

Manusia dapat melihat alam.

Hati dapat merasakan keagungannya.

Akal dapat mempelajari keteraturannya.

Tetapi masih ada pertanyaan yang sangat penting:

Bagaimana kita harus membaca semua itu?

Karena dua orang dapat melihat alam yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Dua manusia dapat mempelajari fakta yang sama tetapi memberinya makna yang berbeda.

Di sinilah wahyu hadir.

وَالْوَحْيُ يَهْدِي

Dan wahyu memberi petunjuk.

Wahyu tidak mematikan akal.

Wahyu justru memberikan horizon bagi akal.

Ia mengajarkan manusia bahwa pembacaan terhadap alam tidak berhenti pada alam itu sendiri.

Sebab tanda bukan tujuan akhir.

Tanda selalu menunjuk kepada sesuatu.

Dan seluruh ayat semesta, jika dibaca dalam cahaya yang benar, mengajak manusia untuk melihat melampaui dirinya.

Dari ciptaan menuju Pencipta.

Dari keteraturan menuju Yang Mengatur.

Dari kehidupan menuju Yang Menghidupkan.

Dari keindahan menuju Yang Mahaindah.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Di sinilah makna Iqra’ menjadi begitu agung.

Perintah pertama itu bukan sekadar ajakan untuk mengenal huruf.

Bukan sekadar perintah untuk mengumpulkan informasi.

Bukan pula hanya perintah untuk membuka buku.

Tetapi ia adalah sebuah revolusi dalam cara manusia berhubungan dengan realitas.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

 

Tinggalkan Balasan

Search