Di antara kisah paling awal dalam sejarah manusia yang diabadikan Al-Qur’an adalah kisah dua putra Nabi Adam ‘alaihis salām: Qābil dan Hābil. Kisah ini bukan sekadar narasi sejarah, tetapi cermin psikologi manusia ketika berhadapan dengan ibadah, iri hati, dan ketentuan Allah. Menariknya, tragedi pembunuhan pertama di muka bumi justru lahir setelah pelaksanaan ibadah kurban.
Allah Ta‘ālā berfirman:
> {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ ۖ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}
(QS. al-Mā’idah: 27)
Ayat ini memperlihatkan sebuah ironi besar: satu ibadah yang seharusnya mendekatkan diri kepada Allah justru menjadi pemantik lahirnya kedengkian dan kekerasan. Dalam konteks inilah diksi Qābil:
> {لَأَقْتُلَنَّكَ}
“Sungguh aku akan membunuhmu,” menjadi sangat penting untuk ditelaah, terutama dalam kaitannya dengan makna hakiki ibadah kurban.
Tafsir al-Qurṭubī tentang Ancaman Qābil
Dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Abu Abdillah al-Qurtubi menjelaskan bahwa penolakan kurban Qābil menjadi sebab munculnya hasad mendalam terhadap Hābil. Menurut beliau, inti persoalan bukan pada jenis persembahan, tetapi pada ketakwaan dan keikhlasan pelakunya.¹
Al-Qurṭubī menyoroti penggunaan kalimat:
> {لَأَقْتُلَنَّكَ}
yang secara balaghah mengandung penegasan sangat kuat. Huruf lam taukīd dan nun tasydīd menunjukkan tekad yang matang dan kemarahan yang mendalam. Ancaman itu bukan sekadar luapan emosi sesaat, tetapi keputusan yang telah menguasai jiwa Qābil.
Yang menarik, Qābil tidak mempersalahkan dirinya sendiri atau memohon evaluasi atas amalnya. Ia justru melampiaskan kemarahan kepada saudaranya. Ini menunjukkan watak hasad: seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh penerimaan dan kemuliaan dari Allah.
Al-Qurṭubī juga menegaskan bahwa jawaban Hābil:
> {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}
merupakan kaidah agung dalam seluruh amal ibadah. Allah tidak melihat banyaknya amal semata, tetapi kualitas ketakwaan yang melandasinya.²
Analisis Ibn ‘Āsyūr tentang Struktur Ayat
Al-Tahrir wa al-Tanwir karya Muhammad al-Tahir Ibn Ashur memberikan telaah yang sangat mendalam terhadap susunan ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak langsung menyebut siapa yang diterima qurbannya dan siapa yang ditolak. Allah berfirman:
> {فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ}
Menurut Ibn ‘Āsyūr, susunan ini mengisyaratkan bahwa fokus utama bukan pada individu tertentu, tetapi pada prinsip universal: amal diterima atau ditolak berdasarkan kualitas spiritualnya.³
Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan Qābil:
> {لَأَقْتُلَنَّكَ}
merupakan manifestasi jiwa yang gagal menerima ketentuan Allah. Qābil telah beribadah, tetapi ibadah itu tidak melahirkan ketundukan hati. Ketika ia melihat saudaranya lebih diterima, ego keagamaannya berubah menjadi permusuhan.
Dalam hal ini, Ibn ‘Āsyūr menunjukkan bahwa penyakit hasad sering muncul bukan ketika seseorang jauh dari agama, tetapi justru ketika ia merasa memiliki “hak” atas kemuliaan spiritual. Ketika harapan itu tidak tercapai, muncul kebencian terhadap orang yang diberi kelebihan oleh Allah.
Qurban: Menyembelih Hewan atau Menyembelih Ego?
Kata:
> {قُرْبَانًا}
berasal dari akar kata:
> قرب
yang berarti “mendekat”. Secara hakikat, kurban adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Namun kisah Qābil dan Hābil menunjukkan bahwa ritual lahiriah saja tidak cukup bila hati tidak dibersihkan.
Satu kurban diterima karena dibangun di atas ketakwaan, sedangkan yang lain ditolak karena kehilangan keikhlasan. Di sinilah relevansi firman Allah:
> {لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ}
(QS. al-Ḥajj: 37)
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
Ayat ini menjadi penjelasan mendalam terhadap kisah Qābil dan Hābil. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging sembelihan, melainkan ketakwaan pemiliknya.
Karena itu, hakikat kurban sejatinya bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia:
– kesombongan,
– iri hati,
– egoisme,
– dan kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri.
Qābil menyembelih persembahan, tetapi gagal menyembelih hasad dalam jiwanya. Akibatnya, ibadah yang seharusnya melahirkan ketenangan justru melahirkan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Penutup
Kisah Qābil dan Hābil memberikan pelajaran besar bahwa ibadah tanpa ketakwaan dapat berubah menjadi formalitas kosong. Bahkan lebih berbahaya lagi, ia dapat melahirkan kesombongan spiritual dan permusuhan sosial.
Diksi:
> {لَأَقْتُلَنَّكَ}
yang muncul setelah pelaksanaan kurban menjadi peringatan keras bahwa keberagamaan yang tidak dibangun di atas keikhlasan dan penyucian jiwa dapat berubah menjadi bara kedengkian.
Karena itu, ibadah qurban bukan hanya momentum menyembelih hewan, tetapi juga momentum menyembelih:
– ego,
– iri hati,
– dan ambisi duniawi yang merusak hati manusia.
Sebagaimana jawaban Hābil yang singkat namun abadi:
> {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}
Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.
Catatan Kaki:
1. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Mā’idah: 27.
2. Ibid.
3. Al-Tahrir wa al-Tanwir, tafsir QS. al-Mā’idah: 27
