Waspada Post Qurban Syndrom

Waspada Post Qurban Syndrom
*) Oleh : dr Tjatur Prijambodo, M.Kes.
Kepala Unit Kedokteran Islam FK Umsura
www.majelistabligh.id -

Iduladha sering menjadi momen paling ‘tinggi protein’ dalam kalender umat Islam. Freezer mendadak penuh daging, sate mengepul di hampir setiap rumah, dan grup WhatsApp keluarga berubah menjadi galeri foto gulai serta tengkleng. Namun di balik euforia itu, muncul fenomena yang diam-diam nyata: Post Qurban Syndrome, sebuah kondisi ketika tubuh dan spiritualitas sama-sama mengalami ‘kelelahan’ pasca kurban.

Dalam perspektif medis, fenomena ini berkaitan dengan perubahan pola makan ekstrem setelah Iduladha. Konsumsi daging merah meningkat tajam dalam waktu singkat, sementara aktivitas fisik tetap rendah. WHO yang diadopsi Kemenkes menyebut konsumsi lemak jenuh dan daging merah berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, obesitas, hingga gangguan metabolik.

Secara fisiologis, tubuh manusia tidak dirancang untuk menerima ‘ledakan kalori’ mendadak tanpa kontrol. Ketika seseorang mengonsumsi sate, gulai bersantan, dan makanan tinggi garam secara terus-menerus, hati, ginjal, pankreas, dan sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) dipaksa bekerja ekstra. Tidak heran jika pasca Idul Adha banyak muncul keluhan seperti asam urat kambuh, tekanan darah naik, nyeri lambung, kolesterol meningkat, hingga gangguan tidur.

Menariknya, Al-Qur’an sudah jauh lebih dahulu memberikan prinsip kesehatan preventif. Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (Al A’raf 31). Ayat ini bukan sekadar etika makan, tetapi juga fondasi ilmu kesehatan modern. Dalam kedokteran, perilaku konsumtif berlebihan terbukti menjadi faktor utama penyakit tidak menular (non-communicable diseases) yang kini mendominasi penyebab kematian global.

Post Qurban Syndrome ternyata tidak hanya menyerang metabolisme tubuh, melainkan juga metabolisme hati. Di era media sosial, kurban perlahan berubah dari ibadah spiritual menjadi pertunjukan digital. Foto sapi jumbo, video distribusi daging sinematik, hingga unggahan penuh pencitraan sering kali lebih ramai dibanding refleksi ketakwaannya sendiri.

Padahal Allah SWT telah menegaskan: “Daging-daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.” (Al Hajj 37). Ayat ini seperti kritik langsung terhadap budaya ‘flexing qurban’ modern. Dalam perspektif teologis, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, kesombongan, dan hasrat dipuji manusia.

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahaya riya’: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.(HR. Ahmad).

Ironisnya, di era digital, manusia modern sering lebih takut kehilangan engagement daripada kehilangan keikhlasan. Validasi sosial melalui likes dan komentar menciptakan ‘dopamin spiritual semu’, membuat ibadah terasa seperti konten yang harus dipertontonkan.

Akhirnya, Post Qurban Syndrome bukan hanya soal kolesterol dan asam urat, tetapi juga tentang hati yang diam-diam sakit karena kehilangan orientasi ibadah. Tubuh mungkin kenyang oleh daging, tetapi jiwa bisa kosong dari makna pengorbanan.

Karena sejatinya, Iduladha bukan festival makan besar atau panggung religiusitas digital. Ia adalah latihan menjadi manusia yang sehat secara fisik, bersih secara spiritual, dan rendah hati di hadapan Allah. Semoga kita semua terhindar dari Post Qurban Syndrome. Aamiin. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search