Otak Kosong dan Pendustaan Kebenaran

Otak Kosong dan Pendustaan Kebenaran
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Otak merupakan amanah terbaik bagi manusia. Ia dicipta untuk berpikir, merenung, dan menimbang kebenaran. Tapi ketika otak kosong dari hidayah, ia justru dipakai untuk mendustakan kebenaran. Fenomena alam yang gamblang di depan mata dianggap angin lalu. Peringatan tentang hari kebangkitan direndahkan, bahkan dijadikan bahan olok-olok.

Otak merupakan kenikmatan paling agung yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dalam kenyataannya, otak justru mengalami degradasi dan disfungsi. Degradasi karena karena otak tunduk kepada hawa nafsu manusia hingga menyudutkan wahyu. Mengalami disfungsi karena otak justru hilang daya dorongnya untuk mengagungkan Allah. Bahkan otak mengolok-olok kebenaran, sebagaimana firman-Nya :

فَقَدْ كَذَّبُوْا فَسَيَأْتِيْهِمْ اَنْۢـبٰۤــؤُا مَا كَا نُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
Sungguh, mereka telah mendustakan, maka kelak akan datang kepada mereka berita-berita mengenai azab yang dulu mereka perolok-olokkan.” [QS. Asy-Syu’ara‘ : 6]

Pendustaan Kafir Quraisy saat Nabi di Makkah merupakan bukti sejarah. Ketika Rasulullah menyampaikan kebenaran tentang hari kebangkitan. Tapi apa jawab mereka ? Setidaknya ada tiga sikap yang buruk.
Pertama, menuduh Nabi Gila dan Tukang Sihir. Al-Walid bin Mughirah, Abu Jahal, dan tokoh Quraisy menuduh Muhammad sebagai penyihir. Mereka berargumen mana mungkin tulang belulang yang sudah hancur bisa hidup lagi?” Mereka tertawa mengejek. Padahal di depan mereka, tanah mati bisa Allah hidupkan dengan hujan.

Kedua, minta Bukti Fisik Sekarang.
Mereka menantang nabi dengan mengatakan “Kalau benar ada hari kebangkitan, hidupkan nenek moyang kami sekarang! Turunkan azab itu sekarang!”
Otak mereka tidak dipakai untuk merenung, tapi untuk menantang dan memperolok.

Ketiga, Menganggap Dongeng Orang Dulu.
Ketika dibacakan Al-Qur’an, mereka mengatakan : “Ini hanya dongeng-dongeng orang terdahulu” [QS. Al-Muthaffifin: 13]. Padahal Allah sudah bentangkan bukti:

اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الْاَ رْضِ كَمْ اَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” [QS. Asy-Syu’ara’ : 7]

Mata mereka melihat biji mati, lalu tumbuh jadi pohon besar. Namun mata mereka tertutup.

Disfungsi otak juga dialami manusia modern
Otak kosong itu tidak mati bersama Abu Jahal. Ia hidup lagi di zaman sekarang, dengan wajah berbeda. Namun dalam bentuk yang lebih terstruktur. Ateisme Ilmiah misalnya, yang mengaku rasional, tapi menolak hari kebangkitan karena “tidak bisa dibuktikan laboratorium”. Mereka percaya teori Big bang, dari ketiadaan, tapi menertawakan kebangkitan jasad. Mereka lihat DNA bisa dikloning, jantung mati bisa dipompa lagi, tapi berkata: “Tuhan tidak mungkin bangkitkan manusia”. Padahal Allah sudah kasih contoh dimana tanah tandus hidup oleh hujan.

Hedonisme percaya bahwa hidup Sekali Saja.
Jargonnya: “You only live once.” Pemikran ini membenarkan perilaku korupsi, zina, dan kezaliman yang dijalani tanpa takut hisab. Ketika diingatkan akhirat, jawabnya: “Jangan sok suci. Surga-neraka itu ilusi agama”. Sama seperti Quraisy: mendustakan lalu memperolok.

Mereka mempermainkan Ayat dimana mereka mengaku Muslim, tapi saat disebut azab kubur, hisab, shirath, ia bilang: “Itu tafsir ulama kuno. Nggak relevan zaman AI”. Otaknya dipakai untuk membantah wahyu, bukan tunduk padanya. Ini bentuk istihza’ modern.

Akhir dari Otak Kosong: : Penyesalan

Disfungsi otak yang melahirkan kekafiran tidak berhenti di dunia. Ia berujung pada satu titik: penyesalan saat melihat azab.

Ketika tirai ghaib dibuka, ketika malaikat Zabaniyah sudah berdiri, ketika api neraka sudah dinyalakan, barulah mereka berteriak. Tapi semua terlambat. Al-Qur’an merekam jeritan itu sebagaimana firman-Nya :

فَلَوْ اَنَّ لَـنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Maka seandainya kita dapat kembali ke dunia niscaya kita menjadi orang-orang yang beriman.” [QS. Asy-Syu’ara’ : 102]

Dulu di dunia, Abu Jahal bilang mustahil. Ilmuwan ateis bilang mitos. Hedonis bilang nikmati saja. Tapi saat azab nyata, semua sama, ingin kembali sedetik saja untuk sujud.

Sebenarnya kinerja otak sangat simpel yakni membenarkan hati nurani dan mencari pembenaran dengan bukti yang kuat. Otak bukan untuk menentang wahyu, tapi untuk memahami tanda kebesaran-Nya. Bijinya mati lalu hidup, tanah kering lalu hijau. Itu miniatur kebangkitan.

Pendustaan hari ini akan jadi penyesalan esok. Bedanya, penyesalan di akhirat tidak ada tombol _undo_atau mundur. Seharusnya, pembenaran hari kebangkitan jangan tunggu lihat azab baru percaya. Sebab iman yang diterima adalah iman sebelum nyawa di tenggorokan.

Quraisy sudah binasa dengan dustanya. Jangan sampai manusia modern mengulang nasib yang sama, hanya karena otak kosong yang dipakai untuk memperolok kebenaran. Penyesalan akan muncul ketika melihat kebenaran saat siksaan neraka hadir di depan mana

Pacet, 28 Mei 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search