Ketika Lisan Menjadi Cermin Hati

Ketika Lisan Menjadi Cermin Hati
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Tidak ada kata yang lahir begitu saja. Sebelum menjadi suara, ia telah lebih dahulu menjadi keadaan hati.
Karena itu, jangan terlalu tergesa merasa terluka oleh ucapan manusia. Setiap kalimat yang keluar dari lisan seseorang sesungguhnya lebih banyak menceritakan dirinya daripada orang yang sedang ia bicarakan.

Teko tidak pernah berdusta. Ia hanya menuangkan apa yang tersimpan di dalamnya. Bila isinya air yang jernih, kejernihan itulah yang mengalir. Bila isinya air yang keruh, jangan berharap yang keluar adalah mata air.

Begitulah hati manusia.
Lisan hanyalah saksi. Hati adalah hakim yang sesungguhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Itulah hati.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an lebih sering berbicara tentang hati daripada lidah. Sebab Allah mengetahui bahwa kerusakan lisan hanyalah gejala. Penyakitnya bersemayam jauh di dalam dada.

Orang yang hatinya dipenuhi cahaya tidak mempunyai kebutuhan untuk merendahkan orang lain. Ia memahami bahwa setiap manusia sedang berjuang melawan kekurangannya sendiri.

Sebaliknya, orang yang batinnya gelap sering merasa lega ketika melihat orang lain jatuh.

Ia menjadikan penghinaan sebagai cara termurah untuk merasa lebih tinggi.
Padahal, kemuliaan tidak pernah lahir dari keberhasilan merendahkan sesama.

Kemuliaan lahir dari keberhasilan menundukkan ego.
Itulah jihad yang paling sunyi.
Jihad melawan amarah, melawan kesombongan, melawan keinginan untuk membalas setiap luka dengan luka yang baru.

Ketika kita dihina, sesungguhnya Allah sedang memperlihatkan dua jalan.
Jalan pertama adalah mengikuti nafsu: membalas, mencaci, dan membiarkan kebencian berkembang.

Jalan kedua adalah menjaga hati agar tetap bersih, sebab tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada kemenangan atas diri sendiri.

Lumpur yang dilempar ke langit tidak akan mengotori langit. Ia akan jatuh kembali kepada tangan yang melemparkannya.

Demikian pula setiap ucapan. Tidak ada satu huruf pun yang hilang dari perhitungan Allah.

Semua akan kembali kepada pemiliknya sebagai amal yang dipertanggungjawabkan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk membersihkan nama di hadapan manusia.

Bersihkanlah hati di hadapan Allah. Nama baik belum tentu menyelamatkan seseorang, tetapi hati yang bersih adalah bekal untuk bertemu dengan-Nya.

Pada akhirnya, manusia tidak dihisab karena berapa banyak hinaan yang ia dengar. Manusia dihisab karena apa yang ia ucapkan, apa yang ia niatkan, dan bagaimana ia menjaga hatinya.
Maka jangan iri kepada orang yang pandai berbicara.

Berdoalah agar Allah menganugerahkan hati yang bening. Sebab dari hati yang bening lahir lisan yang lembut, akhlak yang mulia, dan jiwa yang lapang.
Karena di hadapan Allah, kemuliaan bukanlah siapa yang paling keras suaranya, melainkan siapa yang paling bersih hatinya.

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.
Maknanya, ukuran kemuliaan bukanlah citra di hadapan manusia, melainkan kebeningan hati dan kualitas amal di hadapan Allah.

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
Jakarta, 4 Juli 2026
#BuyaDarwis

 

Tinggalkan Balasan

Search