Ketika Manusia Tidak Memahami Jalan yang Dipilih Allah

Ketika Manusia Tidak Memahami Jalan yang Dipilih Allah
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Pada awal perjalanan ia berkata, “Aku ingin hidup seperti yang kuinginkan.” Namun setelah berjalan bersama wahyu, ilmu, tauhid, sabar, dan ridha, ia mulai berkata, “Aku ingin menjalani hidup sebagaimana Allah menghendaki.”

Di situlah ego mulai luluh.

Di situlah ketergantungan kepada dunia mulai lepas.

Di situlah hati menemukan ketenangan.

Dan di situlah Epistemologi Qurani tidak lagi hanya menjadi cara mengetahui kebenaran, tetapi menjadi cara menjalani kebenaran.

Dari Iqra’ menuju Ma’rifah.
Dari Ma’rifah menuju Tauhid.
Dari Tauhid menuju Yaqin.
Dari Yaqin menuju Sabar.
Dari Sabar menuju Ridha.
Dari Ridha menuju Ikhlas.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak selalu diberi kemampuan untuk memahami seluruh jalan yang dipilihkan Allah baginya. Tetapi ia selalu diberi kesempatan untuk memilih bagaimana ia berjalan di atas jalan itu.

Dan mungkin rahasia terbesar kehidupan bukanlah bahwa kita akhirnya memahami seluruh takdir Allah.

Melainkan bahwa kita belajar mempercayai-Nya bahkan ketika kita belum memahami semuanya.

Itulah kematangan epistemologis seorang manusia tauhidik: tetap berpikir tanpa menjadi sombong, tetap berikhtiar tanpa menjadi angkuh, tetap bersedih tanpa berputus asa, tetap berharap tanpa memaksa takdir, dan akhirnya mampu berkata dengan tenang:

“Aku belum memahami seluruh hikmah-Mu, ya Allah. Tetapi aku percaya, Engkau mengetahuinya.”

 

Tinggalkan Balasan

Search