Al-Qur’an memperlihatkan bahwa peradaban yang dibangun semata-mata di atas ukuran materi akan rapuh. Ia tampak megah karena ditopang oleh harta, kekuasaan, jaringan, pengikut, dan kemakmuran lahiriah, tetapi kehilangan ruh petunjuk ketika ilmu, hikmah, dan amanah tidak lagi dijadikan dasar kepemimpinan.
Kisah Thalut menggambarkan panduan Al-Qur’an bahwa kelebihan ilmu dan kekuatan fisik menjadi modal utama seorang pemimpin, bukan kekayaan. Ilmu diperlukan untuk memberi arah dan petunjuk, sedangkan kekuatan menunjukkan kemampuan memimpin, menggerakkan, melindungi, dan menghadapi tantangan. Islam tidak menolak kemakmuran, tetapi menolak ketika harta dijadikan ukuran utama kemuliaan dan kepemimpinan.
Basis Peradaban
Kerapuhan peradaban bisa dilihat dari cara pandang tokoh masyarakat ketika menentukan pemimpin. Ketika memilih pemimpin bukan karena ilmu, hikmah, integritas, dan kemampuan memikul amanah, melainkan karena kekayaan, keturunan, popularitas, dan banyaknya pengikut, inilah awal mula rapuhnya peradaban.
Cara pandang materialistik yang sejak dahulu telah dikritik oleh Al-Qur’an. Ketika Thalut diangkat menjadi raja, sebagian kaumnya menolak bukan karena Thalut tidak memiliki kapasitas, tetapi karena ia tidak memiliki kekayaan yang banyak. Mereka merasa lebih berhak atas kekuasaan karena memiliki status sosial dan harta yang lebih besar. Hal ini sebagaimana dinarasikan Al-Qur’an sebagai berikut :
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا ۗ قَالُوْٓا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۗ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۗ وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ Nabi menjawab, ‘Allah telah memilihnya menjadi raja kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.’ Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 247)
Ketika aspek materialistik dijadikan dasar menilai pemimpin dari kekayaan, bukan ilmu dan kapasitas,maka ukuran keberhasilan akan melahirkan kesombongan, perebutan kekuasaan, penindasan, dan kerusakan sosial. Dengan kata lain, peradaban yang menjadikan materi sebagai dasar kepemimpinan akan melahirkan masyarakat yang memuja kekayaan. Pemimpin dinilai dari seberapa besar modalnya, seberapa luas jejaringnya, seberapa banyak pengikutnya, dan seberapa kuat pengaruh ekonominya.
Inilah yang membuat orang-orang menolak Thalut tanpa melihat kedalaman ilmunya atau kecakapannya memimpin. Mereka hanya melihat bahwa Thalut tidak memiliki “kelapangan harta”. Mereka menganggap kekuasaan layak diberikan kepada orang yang kaya, bukan kepada orang yang paling mampu memimpin. Cara pandang seperti ini sangat berbahaya. Jika kekuasaan diserahkan kepada orang yang orientasinya adalah harta, maka kekuasaan akan dijadikan alat untuk memperbesar harta. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai jalan untuk menikmati dunia. Rakyat tidak lagi dilihat sebagai manusia yang harus dilayani, tetapi sebagai objek mobilisasi, eksploitasi, dan komoditas politik.
Di sinilah peradaban materialistik menjadi rapuh. Ia mungkin mampu membangun istana, gedung tinggi, pusat ekonomi, dan kekuatan militer. Namun, jika pemimpinnya kehilangan ilmu, akhlak, dan orientasi ketuhanan, maka semua kemegahan itu berdiri di atas fondasi yang retak. Kekayaan dapat memperbesar kekuasaan, tetapi tidak selalu melahirkan keadilan. Banyaknya pengikut dapat memperkuat posisi politik, tetapi tidak selalu menunjukkan kebenaran. Kemakmuran lahiriah dapat menutupi kebusukan batiniah, tetapi tidak dapat menyelamatkan peradaban dari kehancuran moral.
Karunia Allah
Peradaban yang berbasis materi biasanya tidak berhenti pada pencarian kemakmuran. Ia bergerak lebih jauh menjadi perlombaan menumpuk kekayaan, memperluas pengaruh, dan menguasai manusia. Dari sinilah muncul nafsu kekuasaan. Manusia tidak lagi cukup menjadi kaya. Ia ingin mengendalikan yang lain. Ia tidak lagi cukup memiliki jabatan; ia ingin mempertahankannya dengan segala cara. Ia tidak lagi cukup memperoleh dukungan; ia ingin menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya.
Jika nafsu seperti ini dibiarkan tanpa kendali, manusia akan saling memusnahkan. Kekuasaan akan diperebutkan dengan kekerasan. Harta akan dirampas dengan kekuatan. Kelompok kuat akan menindas kelompok lemah. Pemimpin zalim akan menggunakan rakyat sebagai tangga menuju kejayaan pribadinya. Dunia akan berubah menjadi arena pertarungan antar syahwat: syahwat harta, syahwat kuasa, syahwat popularitas, dan syahwat dominasi.
Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa bumi ini tidak dibiarkan berjalan semata-mata menurut nafsu manusia. Ada kuasa Allah yang menahan kerusakan total. Setelah mengisahkan kemenangan pasukan Thalut dan terbunuhnya Jalut oleh Daud, sebagaimana firman-Nya :
فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَاۤءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
“Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia yang dilimpahkan-Nya atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah : 251)
Keseimbangan sosial-politik di dunia merupakan bagian dari karunia Allah. Allah menahan kejahatan sebagian manusia melalui sebagian manusia yang lain. Allah membatasi ambisi kelompok zalim dengan menghadirkan kekuatan penyeimbang. Allah menghalangi manusia agar tidak sepenuhnya saling membunuh dan memusnahkan dalam perebutan kekuasaan.
Dengan kata lain, dunia ini masih bertahan bukan karena manusia sepenuhnya baik, melainkan karena Allah menahan sebagian keburukan manusia. Nafsu kekuasaan manusia sangat besar, tetapi Allah membatasinya. Ambisi manusia untuk menguasai dunia sangat kuat, tetapi Allah menciptakan mekanisme keseimbangan. Kezaliman ingin meluas, tetapi Allah menghadirkan perlawanan. Tirani ingin menguasai segalanya, tetapi Allah menumbuhkan kekuatan yang menahannya.
Realitas kontemporer memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Banyak kepemimpinan modern dipertontonkan sebagai panggung kekayaan, pencitraan, pengaruh, dan perebutan sumber daya. Kekuasaan sering dipakai untuk menumpuk keuntungan, memperkuat kelompok sendiri, mengamankan kepentingan ekonomi, dan menikmati dunia. Politik berubah menjadi industri kekuasaan. Kepemimpinan tidak lagi selalu dipahami sebagai pengabdian, tetapi sebagai investasi untuk memperoleh kedudukan, fasilitas, dan kemewahan.
Peradaban yang dibangun di atas kemakmuran duniawi semata adalah peradaban yang rapuh. Ia mudah silau oleh kekayaan, mudah tertipu oleh jumlah pengikut, dan mudah menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang tampak kuat secara materi, tetapi lemah secara ilmu, akhlak, dan amanah.
Al-Qur’an melalui kisah Thalut mengajarkan pemimpin yang layak bukan semata-mata yang kaya, populer, atau memiliki pengikut besar, melainkan yang memiliki ilmu dan kapasitas memimpin. Ilmu diperlukan untuk memberi petunjuk, membangun visi, menjaga keadilan, dan mengarahkan rakyat kepada keselamatan. Tanpa ilmu, kekuasaan menjadi buta. Tanpa kekuatan, ilmu tidak mampu menggerakkan perubahan. Kerapuhan peradaban materialistik tampak ketika manusia menjadikan kekuasaan sebagai alat menumpuk kekayaan dan menikmati dunia. (*)
