Ketika Ulama Kehilangan Martabat

Ketika Ulama Kehilangan Martabat
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

#Dosa-Dosa yang Meruntuhkan Kewibawaan Pewaris Nabi

Dalam tradisi Islam, ulama menempati posisi yang sangat mulia. Mereka disebut sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya’), karena memikul amanah ilmu, dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Kehadiran ulama bukan hanya sebagai pengajar hukum agama, tetapi juga penjaga moral dan cahaya yang membimbing masyarakat menuju jalan Allah.

Karena itu, ketika seorang ulama jatuh dalam penyimpangan moral atau dosa-dosa tertentu, dampaknya sering kali jauh lebih besar dibanding kesalahan orang biasa. Yang rusak bukan hanya pribadi seseorang, tetapi juga kepercayaan umat, kewibawaan dakwah, bahkan citra agama itu sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan ulama bukan terletak pada gelar, pakaian, ketenaran, atau banyaknya pengikut, tetapi pada kedalaman rasa takutnya kepada Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula ketakwaan, kerendahan hati, dan kehati-hatiannya dalam menjaga amanah agama.

Namun realitas kehidupan menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu berjalan seiring dengan akhlak. Ada orang yang luas ilmunya, tetapi gagal menjaga hati dan hawa nafsunya. Di sinilah awal jatuhnya martabat seorang ulama.

Godaan Popularitas dan Penyakit Riya’

Salah satu penyakit paling berbahaya bagi seorang ulama adalah riya’, yaitu menjadikan amal dan dakwah sebagai sarana mencari pujian manusia. Di era modern, godaan ini semakin besar. Popularitas dapat diperoleh dengan cepat melalui media sosial, panggung dakwah, atau pengaruh massa. Tidak sedikit orang mulai mengukur keberhasilan dakwah berdasarkan jumlah penonton, jamaah, tepuk tangan, atau viralnya ceramah.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan: “Barang siapa menuntut ilmu untuk menyaingi ulama, mendebat orang bodoh, atau agar manusia memandang kepadanya, maka Allah memasukkannya ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Ketika seorang ulama mulai menikmati kultus individu, senang dipuja, dan marah ketika dikritik, maka sesungguhnya ia sedang menghadapi ujian besar dalam keikhlasan. Ulama-ulama besar terdahulu justru sangat takut terhadap ketenaran. Mereka lebih sibuk memperbaiki diri daripada membangun citra diri.
Ketika Fatwa Menjadi Alat Kepentingan

Dosa lain yang sangat berbahaya adalah memperjualbelikan ilmu agama demi kepentingan duniawi. Dalam sejarah Islam, selalu ada godaan agar ulama mendukung penguasa zalim, membenarkan kebijakan yang salah, atau diam terhadap kemungkaran demi fasilitas dan kedudukan. Allah ﷻ berfirman: “Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Baqarah: 41)

Fenomena “fatwa pesanan” adalah salah satu bentuk penyimpangan moral yang paling merusak kewibawaan ulama. Ketika hukum agama dipelintir demi kepentingan politik, ekonomi, atau kelompok tertentu, maka masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap otoritas keagamaan.

Dalam tradisi Islam dikenal istilah ‘ulama as-sū’ (ulama buruk), yaitu orang yang memiliki ilmu tetapi kehilangan integritas dan keberanian moral.

Pandai Berbicara, Lemah dalam Keteladanan
Masyarakat tidak hanya mendengar ceramah seorang ulama, tetapi juga memperhatikan perilakunya. Karena itu, salah satu penyebab runtuhnya martabat ulama adalah ketika ucapan dan tindakannya bertolak belakang.
Allah ﷻ berfirman: “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)

Seorang ulama yang menyeru kesederhanaan tetapi hidup berlebihan, menyeru kejujuran tetapi tidak amanah, atau menyeru akhlak tetapi kasar kepada orang lain, perlahan akan kehilangan wibawanya di mata umat.
Keteladanan adalah inti dakwah. Sebab manusia lebih mudah terpengaruh oleh perilaku daripada kata-kata.

Godaan Kekuasaan dan Penyalahgunaan Amanah
Semakin besar pengaruh seorang ulama, semakin besar pula godaan kekuasaan yang mengintainya. Ada yang mulai merasa dirinya tidak boleh dikritik. Ada yang menggunakan jamaah demi kepentingan pribadi atau kelompok. Ada pula yang memanfaatkan pengaruh agama untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jabatan dan pengaruh sosial sesungguhnya bukan kemuliaan, melainkan amanah yang sangat berat di hadapan Allah.

Fanatisme dan Mudah Menyesatkan
Perbedaan pendapat dalam Islam adalah sesuatu yang wajar, terutama dalam persoalan ijtihad. Para ulama besar dahulu berbeda pendapat tetapi tetap saling menghormati. Namun yang terjadi hari ini sering kali berbeda. Sebagian orang mudah: memvonis sesat, menghina kelompok lain, merendahkan sesama ulama, bahkan menjadikan perbedaan sebagai bahan permusuhan.

Padahal Imam Malik رحمه الله pernah berkata: “Setiap orang bisa diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini,”sambil menunjuk makam Nabi ﷺ. Ucapan ini menunjukkan bahwa tidak ada ulama yang maksum. Karena itu, adab ilmiah harus lebih dikedepankan daripada ego kelompok.

Cinta Dunia dan Gaya Hidup Berlebihan
Islam tidak melarang ulama hidup berkecukupan. Namun ketika dakwah berubah menjadi panggung kemewahan, maka kewibawaan moral perlahan akan memudar. Masyarakat akan sulit menerima nasihat tentang kesabaran dan kesederhanaan dari orang yang hidup dalam kemegahan berlebihan, gemar memamerkan kekayaan, dan menjadikan agama sebagai sarana bisnis citra.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” Walaupun kualitas sanad hadis ini diperselisihkan, maknanya sangat relevan dalam kehidupan. Banyak penyimpangan lahir dari ambisi dunia yang tidak terkendali.

Skandal Moral dan Hawa Nafsu
Tidak sedikit tokoh agama jatuh bukan karena kurang ilmu, tetapi karena gagal menjaga hawa nafsu. Kasus: pelecehan seksual, perselingkuhan, penyalahgunaan relasi kuasa, atau perilaku tidak bermoral lainnya, menjadi sangat merusak ketika dilakukan oleh figur agama.

Kerusakannya bukan hanya pada korban, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap institusi keagamaan. Allah ﷻ berfirman: “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”(QS. Shad: 26)
Karena itu, menjaga kehormatan diri adalah bagian penting dari amanah keulamaan.

Ilmu Tanpa Akhlak
Ada orang yang sangat luas ilmunya, tetapi keras hati dan kasar perilakunya. Mudah marah, gemar menghina, menikmati permusuhan, dan merasa paling suci. Padahal Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan kelembutan.
Allah ﷻ berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kekerasan spiritual. Dakwah kehilangan ruh kasih sayang dan berubah menjadi alat menghakimi manusia.

Mengapa Dosa Ulama Lebih Berbahaya?
Kesalahan orang biasa mungkin hanya berdampak pada dirinya sendiri. Namun kesalahan seorang ulama bisa berdampak luas karena ia menjadi teladan dan rujukan masyarakat.
Akibatnya: umat kehilangan kepercayaan kepada agama, generasi muda menjadi sinis terhadap dakwah, muncul fitnah terhadap Islam, dan masyarakat sulit membedakan antara ajaran Islam dengan perilaku oknum.
Karena itu para ulama terdahulu sangat takut terhadap amanah ilmu. Mereka lebih takut rusak oleh popularitas dan dunia daripada takut miskin atau kehilangan jabatan.

Penutup
Martabat seorang ulama tidak dijaga oleh sorban, gelar, jabatan, atau banyaknya pengikut. Ia dijaga oleh: keikhlasan,ketakwaan, amanah, akhlak,dan keberanian menyampaikan kebenaran. Ulama sejati bukan hanya pandai berbicara tentang agama, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam kehidupan.

Di sisi lain, umat Islam juga harus bersikap adil: menghormati ulama, mendoakan mereka, menasihati dengan adab, dan tidak mudah menghina atau membuka aib. Sebab bagaimanapun, ulama tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan.

Namun semakin tinggi kedudukan seseorang di tengah umat, semakin berat pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nashrun Minallahi wafathun qarieb.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search