Majelis Tarjih Muhammadiyah: Perbedaan dalam Ibadah Tak Perlu Saling Menyalahkan

www.majelistabligh.id -

Perbedaan cara menjalankan praktik ibadah di tengah umat Islam bukan pertanda adanya perselisihan, melainkan cerminan dari beragamnya ajaran yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad saw.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, dalam pengajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa dalam fikih Islam, keragaman variasi ibadah yang sama-sama memiliki landasan hadis sahih dikenal dengan istilah tanawwu‘.

Mukhlis mencontohkan variasi bacaan doa istiftah setelah takbiratul ihram—seperti Allāhumma bā‘id bainī, Allāhu akbar kabīrā, dan Wajjahtu wajhiya. Ketiga doa tersebut memiliki riwayat yang jelas dari Rasulullah saw sehingga umat bebas memilih salah satunya.

“Ketiganya diajarkan oleh Nabi, maka tidak boleh yang membaca Allāhumma bā‘id menyalahkan yang membaca Allāhu akbar kabīrā, atau sebaliknya. Semuanya memiliki sanad sampai kepada Nabi,” tegas Mukhlis.

Fenomena serupa juga berlaku pada pengucapan basmalah saat salat jahr (bersuara keras)—baik yang dibaca secara jaher (terdengar) maupun sirr (lirih)—serta variasi dalam bacaan salam. Mukhlis menyayangkan kebiasaan masyarakat yang terburu-buru mengkotak-kotakkan perbedaan tersebut berdasarkan identitas ormas tertentu, seperti mengidentikkan bacaan lirih dengan Muhammadiyah dan bacaan keras dengan NU.

“Padahal jauh sebelum Muhammadiyah dan NU berdiri, hadis-hadisnya sudah ada. Sama-sama diajarkan oleh Nabi,” tambahnya.

Terkait persoalan cabang (furu’iyyah) seperti hukum isbal (pakaian di bawah mata kaki) hingga pilihan berbusana, Mukhlis mengimbau umat untuk saling memberikan ruang toleransi. Menurut perspektif para ahli fikih (fuqaha), hal terpenting dalam berbusana adalah terpenuhinya syarat menutup aurat, baik menggunakan jubah maupun pakaian adat setempat.

Menutup pemaparannya, Mukhlis mengingatkan bahwa kecintaan dan upaya meneladani Nabi (ittiba‘) harus didasari oleh pemahaman ilmu yang komprehensif, bukan fanatisme kelompok.

“Cinta itu harus berdasarkan ilmu. Pemahaman yang mendalam akan mengikis ketidaktahuan yang sering menjadi sumber prasangka buruk. Jangan pernah merasa diri atau kelompok kita yang paling benar,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search