Memantapkan Gerakan Muhammadiyah: Motor Inovasi Sosial, Social Entrepreneur, dan Social Enterprise

Memantapkan Gerakan Muhammadiyah: Motor Inovasi Sosial, Social Entrepreneur, dan Social Enterprise
*) Oleh : Suyoto
Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik.
www.majelistabligh.id -

Dari Social Entrepreneur Menuju Social Enterprise
Jika praktik inovasi sosial ini hidup berkesinambungan di seluruh tingkatan organisasi, wajah Muhammadiyah sebagai social entrepreneur (pelaku inovasi sosial) akan kian terasa. Ketika dilakukan secara terstruktur, melembaga, dan sistematis, secara organisatoris Muhammadiyah mengukuhkan dirinya sebagai sebuah Social Enterprise yang dahsyat.

Sebagai social enterprise, sejak awal berdiri Muhammadiyah tidak canggung mengadopsi prinsip, praktik, hingga teknologi modern sebagai daya dukung (enabler) inovasi sosialnya. Keterbukaan ini membuat Muhammadiyah luwes menyerap berbagai praktik baik (best practices) dari mana pun asalnya tanpa pernah terjebak pada sekadar simbolisme identitas.

Keunggulan lain Muhammadiyah terletak pada model kepemimpinan kolektif-kolegial yang berhasil menghindarkan organisasi dari subjektivitas atau selera perorangan. Mekanisme permusyawaratan (Muktamar hingga Musyran) terbukti menjadi benteng kokoh dari intervensi luar maupun praktik money politics.

Bila modal sosial berupa kohesivitas dan keikhlasan ini dipadukan dengan jiwa social entrepreneurship serta budaya Organisasi Pembelajar (Learning Organization), dampak inovasi sosial Muhammadiyah akan jauh lebih luar biasa.

Menerapkan 5 Disiplin Organisasi Pembelajar Peter Senge di Muhammadiyah
Sebagaimana temuan Peter Senge dalam karyanya The Fifth Discipline, Learning Organization adalah praktik efektif yang memungkinkan sebuah organisasi tetap hidup relevan dan adaptif melintasi perputaran abad. Senge merumuskan lima disiplin utama yang dapat diinternalisasikan ke dalam tubuh
Muhammadiyah.

Berikut lima disiplin dan kemungkinan prakteknya:
1. Keahlian Pribadi (Personal Mastery). Praktik: Kader dan pengelola AUM terus-menerus mengasah kapasitas diri, keahlian profesional, serta integritas moralnya, sehingga hadir sebagai individu yang kompeten dan tulus melayani. Masalah menjadi ruang pertumbuhan intelektual, emosional dan spiritual semua kader.

2. Model Mental (Mental Models). Praktik: Keberanian membongkar asumsi lama atau pola pikir kaku yang menyejarah, lalu membukanya dengan wawasan modern dan inklusif sesuai semangat keislaman berkemajuan.

3. Visi Bersama (Shared Vision). Praktik: Menjadikan cita-cita “Masyarakat Islam yang Benar-benar Adil dan Makmur” bukan sekadar slogan Muktamar, melainkan kepemilikan bersama yang dipahami, hidup dan diperjuangkan hingga level Ranting.

4. Pembelajaran Berkelompok (Team Learning). Praktik: Menghidupkan tradisi dialog generative, diskusi kritis, refleksi dan kolaborasi antarmajelis, lembaga, serta AUM untuk memecahkan masalah kompleks secara bersama-sama, bukan secara silo/terkotak-kotak.

5. Berpikir Sistem (Systems Thinking). Praktik: Kemampuan melihat akar persoalan masyarakat secara menyeluruh dan saling terhubung—bukan sekadar mengobati gejala luar—sehingga solusi yang dihadirkan Muhammadiyah berdampak jangka panjang.

Bayangkan jika kelima disiplin ini berpadu dengan karakter pragmatisme berprinsip khas Muhammadiyah! Karakter di mana ajaran agama tidak berhenti sebagai ritual ibadah murni, melainkan diwujudkan menjadi manfaat sosial berlandaskan prinsip rahmatan lil ‘alamin.

 

Tinggalkan Balasan

Search