Memantapkan Gerakan Muhammadiyah: Motor Inovasi Sosial, Social Entrepreneur, dan Social Enterprise

Memantapkan Gerakan Muhammadiyah: Motor Inovasi Sosial, Social Entrepreneur, dan Social Enterprise
*) Oleh : Suyoto
Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik.
www.majelistabligh.id -

Mengambil Peluang Kebajikan Sosial
Peluang untuk mengukir amal saleh lewat inovasi sosial terbuka sangat lebar di negeri ini. Peta masalah sosial dapat dibaca dengan mudah, misalnya melalui panduan Sustainable Development Goals (SDGs): kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, keterbelakangan, hingga marginalisasi.

Semua persoalan tersebut memberi ruang lapang bagi lahirnya solusi-solusi baru. Muhammadiyah memiliki modal yang lengkap: kepercayaan publik (public trust), ulama, akademisi, jaringan infrastruktur, aktivis militan, serta struktur kepemimpinan di setiap tingkatan. Modal ini berpeluang melahirkan: Instrumen pemecah masalah yang solutif, Kerangka relasi sosial baru yang inklusif, Transformasi ekosistem dan Ruang diskursus generatif—sebuah ruang dialog kritis yang sehat untuk menumbuhkan daya kritis pelaku inovasi sosial sekaligus menjaga mekanisme koreksi diri (self-correcting mechanism) dalam tubuh organisasi.

Menjawab Panggilan Ilahi
Secara spiritual, seluruh ikhtiar inovasi sosial ini adalah bentuk komitmen atas panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk menjadikan Islam sebagai ajaran yang menghidupkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul apabila Dia memanggil kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…“(QS. Al-Anfal: 24)

Langkah ini sekaligus bentuk kepedulian untuk mencegah bencana sosial akibat kezaliman atau kelalaian bersama (QS. Al-Anfal: 25).

Allah SWT menegaskan pentingnya orientasi dan kontribusi nyata setiap umat:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيَهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Mari kita perhebat gerakan inovasi sosial ini. Bukan untuk bersaing egois dengan siapa pun, melainkan sebagai ikhtiar terbaik untuk melangkah maju, menghadirkan versi kepemimpinan dan gerakan sosial paling berdampak bagi kemanusiaan dan kebangsaan.
Jika sepaham dengan ide ini, tentu diperlukan penguatan kapasitas dan skill social innovation, sosial entrepreneurs dan sosial enterprise.

Jakarta, 3 Oktober 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search