“Education is not just filling an empty vessel, but kindling a pure fire in the soul” “((Pendidikan bukan sekadar mengisi bejana yang kosong, melainkan menyalakan api yang murni di dalam jiwa)”
Pendidikan di era digital menuntut transformasi peran guru dari sekadar pemberi informasi menjadi pemandu spiritual dan moral. Ki Hajar Dewantara mengingatkan agar guru tidak “setengah hati” dalam mengajar, sebab murid datang dengan kepercayaan penuh. Dalam Islam, mendidik adalah amanah mulia untuk mengangkat derajat manusia, sebagaimana firman Allah SWT:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya:
“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Dedikasi sepenuh hati merupakan wujud nyata dari itqan (Profesionalisme). Rasulullah SAW bersabda:
إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional.” (HR. Thabrani No. 891 & Baihaqi No. 334).
Di tengah tantangan kompleks seperti isu kesehatan mental, pendidikan yang memanusiakan manusia (humanisasi) hanya dapat dicapai melalui kehadiran emosional dan ketulusan guru. Menjadi pendidik adalah panggilan jiwa; setiap benih ketulusan yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi pohon kebaikan bagi generasi mendatang. Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Semoga bermanfaat.
