#Sebuah Analisis Epistemologi Qurani atas Worldview Pembangunan Modern
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan sekadar tayangan investigatif tentang konflik agraria di Papua. Ia sesungguhnya adalah potret benturan dua cara pandang besar dalam membaca manusia, tanah, pembangunan, dan peradaban. Di sinilah film tersebut menarik dibaca melalui perspektif epistemologi Qurani dan worldview wahyu.
Modernitas selama ini membangun paradigma bahwa kemajuan identik dengan eksploitasi sumber daya. Tanah dipandang sebagai aset produksi. Hutan dilihat sebagai cadangan industri. Manusia sering direduksi menjadi angka statistik pembangunan. Akibatnya, keberhasilan diukur melalui:
-investasi,
-pertumbuhan ekonomi,
-proyek strategis nasional,
-dan ekspansi industri.
Namun pertanyaan mendasar yang jarang diajukan adalah:
> apakah pembangunan benar-benar memuliakan manusia?
Dalam perspektif Qurani, bumi bukan sekadar objek ekonomi. Tanah bukan hanya komoditas. Alam adalah ayat Allah. Karena itu manusia dalam Al-Qur’an disebut sebagai khalifah fil ardh — pengelola bumi, bukan pemilik absolut yang bebas mengeksploitasi sesuka hati.
Allah berfirman:
“Walaa tufsidu fil ardhi ba’da ishlahihaa.” “Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa problem terbesar manusia modern bukan sekadar kerusakan ekologis, tetapi kerusakan epistemologis dalam memandang alam. Ketika manusia membaca bumi hanya dengan paradigma materi, maka hutan berubah menjadi angka ekonomi, sungai menjadi alat industri, dan masyarakat adat dianggap penghambat pembangunan.
Di titik inilah Pesta Babi menjadi penting untuk dibaca lebih dalam. Film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan modern sering bergerak dengan paradigma sentralistik:
-negara menentukan,
-korporasi menjalankan,
-rakyat menyesuaikan.
Padahal dalam worldview wahyu, pembangunan seharusnya tidak memutus manusia dari akar kemanusiaannya. Sebab tujuan peradaban bukan hanya memperbesar proyek, tetapi menjaga keadilan sosial dan keberlangsungan kehidupan.
Namun epistemologi Qurani juga mengajarkan satu hal penting: kebenaran tidak boleh dibaca secara emosional dan hitam-putih.
Sebab dalam banyak diskursus sosial modern, sering muncul dua ekstrem:
satu pihak memutlakkan negara dan pembangunan, pihak lain memutlakkan narasi perlawanan.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan keadilan berpikir.
“I’diluu huwa aqrabu lit-taqwaa.” “Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Artinya kritik terhadap pembangunan tidak boleh berubah menjadi propaganda kebencian, tetapi pembangunan juga tidak boleh menjadi legitimasi penyingkiran manusia kecil.
Inilah problem besar modernitas: manusia terlalu sibuk membangun infrastruktur, tetapi lupa membangun hikmah.
Kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran moral sering tertinggal jauh. Akibatnya pembangunan bisa kehilangan ruh kemanusiaannya. Tanah adat hilang atas nama investasi. Hutan dibuka atas nama kemajuan. Rakyat kecil dipindahkan demi angka pertumbuhan ekonomi.
Dalam perspektif Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia, semua ini sesungguhnya berakar pada krisis cara membaca kehidupan. Wahyu pertama turun dengan perintah membaca, sebab kerusakan manusia sering dimulai dari kesalahan membaca realitas.
Ketika tanah dibaca hanya sebagai objek ekonomi, maka eksploitasi dianggap wajar.
Ketika manusia dibaca hanya sebagai angka produksi, maka penderitaan sosial mudah diabaikan.
Ketika pembangunan dibaca hanya melalui grafik pertumbuhan, maka keadilan sosial perlahan menghilang dari arah peradaban.
Di sinilah worldview wahyu menawarkan paradigma berbeda. Islam tidak anti pembangunan. Islam juga tidak anti kemajuan ekonomi. Bahkan Islam mendorong produktivitas dan kemakmuran. Tetapi Qur’an menolak pembangunan yang memutus manusia dari amanah ketuhanan.
Karena itu konsep tauhid sebagai epistemologi ayat-ayat kehidupan menjadi sangat penting. Tauhid bukan hanya membahas hubungan manusia dengan Allah secara ritual, tetapi membentuk cara manusia memperlakukan bumi, sesama manusia, kekuasaan, dan sumber daya alam.
Manusia bertauhid memahami:
-bumi bukan miliknya,
-kekuasaan bukan milik abadi,
-pembangunan bukan tujuan akhir,
dan kemajuan tanpa keadilan dapat berubah menjadi bentuk baru kolonialisme.
Mungkin inilah pesan paling penting yang dapat dibaca dari fenomena seperti Pesta Babi: krisis terbesar dunia modern bukan sekadar konflik agraria atau perebutan sumber daya, tetapi hilangnya kesadaran transendental dalam membangun peradaban.
Sebab ketika wahyu dipisahkan dari pembangunan, manusia bisa sangat maju secara teknologi, tetapi gagal menjaga kemanusiaannya sendiri. (*)
