Sekretaris PWM Jawa Timur, Prof. Biyanto, memaparkan materi krusial bertajuk “Manhaj Muhammadiyah dan Tantangan Dakwah Persyarikatan”, dalam acara Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Zona Tapal Kuda yang diselenggarakan di Probolinggo pada Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan para mubaligh muda, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mengupas tuntas urgensi memahami manhaj sebagai kompas gerakan sekaligus benteng ideologi di era modern.
Mengawali paparannya, Prof. Biyanto meluruskan persepsi mengenai posisi ideologis persyarikatan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah sebuah mazhab keagamaan baru, melainkan sebuah gerakan keislaman yang bermanhaj atau gerakan non-madzhab.
“Manhaj adalah metodologi, sistematika berpikir, atau kerangka kerja yang digunakan untuk memahami ajaran, merumuskan hukum, dan mempraktikkan Islam dalam kehidupan nyata,” ujar Prof. Biyanto.
Warga Muhammadiyah, lanjutnya, harus memegang teguh karakter gerakan yang bercorak Moderat-Berkemajuan serta Modernis-Moderat sebagaimana pondasi yang diletakkan oleh KH. Ahmad Dahlan.
Karakter tengahan (wasathiyah) inilah yang membedakan Muhammadiyah dari corak keagamaan ekstrem. Beliau juga mengingatkan pentingnya mendakwahkan Risalah Islam Berkemajuan—hasil keputusan Muktamar ke-48—yang bersandarkan pada tauhid murni, kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta terus menghidupkan ijtihad dan tajdid.
Mewaspadai Pudarnya Otoritas dan Fenomena ‘Ustaz Karbitan’
Tantangan terbesar dakwah saat ini, menurut Prof. Biyanto, terletak pada pergeseran otoritas keagamaan di ruang digital. Mengutip fenomena “The Death of Expertise”, ia mengingatkan situasi berbahaya di mana arus informasi melimpah ruah, namun masyarakat kian resisten terhadap proses belajar yang mendalam.
“Di era digital, otoritas keagamaan mengalami pergeseran ke new media yang impersonal berbasis internet. Fatwa keagamaan tidak lagi hanya dimiliki ulama konvensional. Setiap orang bisa dengan mudah mengakses informasi sesuai selera mereka tanpa harus bertanya langsung kepada ahlinya,” jelasnya.
Dampaknya, ruang publik kini marak dipenuhi oleh para ahli agama instan atau pendakwah karbitan. Prof. Biyanto mengutip keprihatinan tokoh nasional yang menyebut banyaknya individu yang tiba-tiba mengklaim diri sebagai ustaz sesaat setelah berhijrah, padahal penguasaan ilmu agamanya dangkal dan berani membuat konten yang menyesatkan publik yang belum mampu memfilter informasi.
Menghadapi karakteristik generasi muda (Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha) yang mandiri, kritis, namun serba instan dan berbasis gawai, mubaligh Muhammadiyah dituntut untuk adaptif. Fleksibilitas manhaj Muhammadiyah sebenarnya sangat kompatibel dengan anak muda; sebagai contoh, Prof. Biyanto memaparkan data bahwa dukungan Gen Z terhadap implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mencapai angka 82,9% karena mereka menyukai kepastian hukum dan pendekatan sains.
Oleh karena itu, di akhir sesi, Sekretaris PWM Jatim tersebut merumuskan beberapa rekomendasi konkret bagi dakwah kekinian persyarikatan di Zona Tapal Kuda:
- Dakwah Berbasis Teknologi: Mengoptimalkan tools baru, media sosial, video, dan podcast.
- Dakwah Komunitas: Memperluas jangkauan ke kelompok-kelompok kultural dan komunitas anak muda.
- Peningkatan Kapasitas Da’i: Melahirkan public speaker yang andal namun tetap memiliki kedalaman ilmu keagamaan berbasis teks (kitab).
- Pendekatan Seni Budaya: Menjadikan ekspresi seni dan budaya sebagai instrumen dakwah yang sejuk dan inklusif.
Melalui pelaksanaan Akademi Mubaligh Muhammadiyah ini, diharapkan para peserta di kawasan Tapal Kuda mampu menjadikan organisasi sebagai alat perjuangan terbaik—sebagaimana termaktub dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah—demi membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam. || chusnun
