Arab Saudi kembali menegaskan komitmennya dalam mentransformasi layanan publik dan keagamaan berbasis teknologi tinggi, khususnya bagi para mualaf. Melalui Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan, Pemerintah Kerajaan resmi meluncurkan kartu digital “New Muslim” (Muslim Baru) yang terintegrasi langsung dengan aplikasi nasional Tawakkalna.
Inovasi ini memangkas proses birokrasi manual yang panjang. Kini, masyarakat yang baru memeluk agama Islam dan telah disetujui permohonannya akan langsung mendapatkan identitas digital secara otomatis tanpa perlu menunggu penerbitan dokumen fisik.
Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, Syekh Abdullatif Al Alsheikh, memimpin langsung peluncuran program ini. Dalam keterangannya, beliau menegaskan pentingnya modernisasi dalam mendampingi perjalanan para mualaf.
“Langkah ini bukan sekadar efisiensi administrasi, melainkan wujud nyata komitmen Kerajaan dalam memberikan pelayanan terbaik, transparan, dan terstruktur bagi saudara-saudara baru kita yang memeluk Islam di era digital,” ujar Syekh Abdullatif Al Alsheikh.
Sebelum inovasi ini hadir, pencatatan dan penerbitan dokumen mualaf dilakukan secara manual melalui berbagai lembaga terkait. Kehadiran kartu digital “New Muslim” mengubah total paradigma tersebut.
Setiap pemegang kartu dapat mengakses identitas resminya kapan saja melalui smartphone. Untuk menjamin keamanan dan keaslian dokumen, kartu ini dilengkapi dengan teknologi Kode QR terenkripsi yang terhubung langsung ke server otoritas resmi Kerajaan.
Di balik kemudahan teknis bagi pengguna, program ini memegang peran strategis dalam peta jalan Visi Saudi 2030. Integrasi sistem ini melibatkan Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA) untuk memastikan proses verifikasi data berlangsung otomatis dan aman antarinstansi.
Perwakilan SDAIA menyambut positif kolaborasi lintas sektor ini untuk mendukung tata kelola data berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Sinergi antara data keagamaan dan kecerdasan buatan memungkinkan pemerintah memperoleh statistik yang presisi secara real-time. Hal ini menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan serta program pembinaan mualaf yang lebih terarah dan berkelanjutan,” ungkap Juru Bicara SDAIA.
Inisiatif ini menempatkan pelayanan keagamaan bukan lagi sekadar urusan sosial-spiritual, melainkan bagian integral dari ekosistem negara modern yang efisien. Dengan data yang terpusat dan akurat, Pemerintah Arab Saudi dapat menyusun program pendampingan, edukasi, dan pembinaan mualaf secara berkelanjutan.
Langkah berani ini berpotensi menjadi benchmark (rujukan) baru bagi negara-negara Muslim lainnya di dunia dalam mengawinkan teknologi, tata kelola data nasional, dan pelayanan keagamaan di era digital. (*/tim)
