Mengapa Masjid Sepi di Saat Dunia Kian Ramai?

Mengapa Masjid Sepi di Saat Dunia Kian Ramai?
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Majelis Tabligh PDM Banjarnegara, Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Di era transformasi digital dan pembangunan fisik yang masif, kita menyaksikan sebuah paradoks yang menyesakkan dada. Di satu sisi, gedung-gedung pencakar langit tumbuh bak jamur, pusat perbelanjaan penuh sesak hingga larut malam, dan media sosial tak pernah tidur dari riuhnya interaksi manusia. Namun di sisi lain, bangunan-bangunan megah berkubah—masjid-masjid kita—seringkali hanya terisi satu atau dua shaf saat waktu salat tiba, kecuali pada hari Jumat atau hari raya.

Fenomena “masjid sepi, dunia ramai” bukan sekadar masalah kehadiran fisik, melainkan cerminan dari pergeseran orientasi hidup manusia modern. Ada sebuah penyakit spiritual yang sedang menjangkiti umat, di mana suara adzan dianggap sebagai latar belakang (background noise), sementara notifikasi ponsel dianggap sebagai perintah yang harus segera dijawab.

Mengapa dunia terlihat begitu berkilau sehingga mengalahkan panggilan Sang Pencipta? Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kecintaan yang berlebihan pada dunia adalah tirai yang menutup mata hati. Allah SWT berfirman;

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ…

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20).

Kesibukan manusia mengejar aspek-aspek di atas seringkali membuat masjid terasa “jauh”, meski jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah. Masjid menjadi sepi karena hati manusia telah penuh sesak dengan urusan duniawi yang tak kunjung usai.

Ribuan tahun lalu, Rasulullah SAW telah memprediksi kondisi ini. Beliau tidak mengkhawatirkan umatnya akan miskin secara materi, namun beliau khawatir umatnya akan berlomba-lomba dalam kemegahan fisik tanpa substansi spiritual.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِد

“Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Kenyataan hari ini membenarkan hadis tersebut. Kita melihat masjid dibangun dengan biaya miliaran rupiah, marmer impor, dan pendingin ruangan yang sejuk. Namun, aspek “imarah” (memakmurkan) secara spiritual terlupakan. Masjid hanya menjadi objek wisata arsitektur, bukan pusat peradaban dan penyucian jiwa.

Ketika masjid sepi, masyarakat kehilangan “jangkar” moralnya. Masjid berfungsi sebagai tempat penyetaraan strata sosial; di sana si kaya dan si miskin berdiri sejajar. Saat fungsi ini hilang karena orang-orang lebih memilih menyepi di tempat-tempat hiburan, maka egoisme dan individualisme akan meningkat.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi mereka yang bertetangga dengan masjid namun enggan mendatanginya sebagaimana sabdanya:

لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ

“Tidak ada shalat (yang sempurna) bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” (HR. Daruquthni dan Al-Hakim)

Sepinya masjid adalah indikator melemahnya ikatan ukhuwah islamiyah. Dunia yang ramai oleh kompetisi materi tanpa diimbangi dengan ruku’ dan sujud berjamaah hanya akan melahirkan masyarakat yang stres, penuh kecemasan, dan kehilangan arah hidup.

Untuk membalikkan keadaan ini, kita perlu merenungi kembali janji Allah bagi mereka yang hatinya terpaut pada masjid. Menghidupkan masjid bukan hanya tugas pengurus (takmir), melainkan kewajiban setiap individu muslim. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ…

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah:18).

Selain itu, bagi mereka yang tetap melangkahkan kaki ke masjid di tengah hiruk pikuk dunia, Rasulullah SAW menjanjikan perlindungan di hari kiamat sebagaimana sabdanya:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… (salah satunya) adalah seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertanyaannya adalah mengapa dunia begitu ramai? Karena dunia menawarkan kenyamanan, keramahan, dan solusi praktis. Masjid harus mulai beradaptasi tanpa menghilangkan kesuciannya. Beberapa program yang dapat dijadikan sebagai daya tarik terhadap masjid diantaranya:

  1. Pendidikan dan Literasi: Menjadikan masjid sebagai pusat belajar yang relevan bagi pemuda.
  2. Ramah Anak dan Perempuan: Jangan biarkan masjid menjadi tempat yang kaku dan menakutkan bagi anak-anak.
  3. Pemberdayaan Ekonomi: Masjid harus hadir sebagai pemberi solusi bagi jamaah yang kesulitan secara ekonomi.

Jika masjid mampu memberikan kedamaian yang tidak ditemukan di pusat perbelanjaan, dan solusi yang tidak ditemukan di internet, maka manusia akan kembali berbondong-bondong menuju rumah Allah.

Dunia yang ramai ini bersifat sementara dan menipu. Kesibukan kita mengejar angka-angka di layar saham atau tumpukan berkas di meja kerja tidak akan bermakna saat nafas sampai di kerongkongan. Masjid adalah “oasis” di tengah padang pasir dunia yang gersang.

Sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: “Jika saat adzan berkumandang kita tetap sibuk dengan dunia, lalu kapan kita akan benar-benar pulang?” Mari kita kembali meramaikan rumah Allah, agar Allah meramaikan hati kita dengan ketenangan dan keberkahan.  (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search