Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Muhajirin, Jl. Jojoran 1 No. 77, Mojo, Gubeng, Surabaya pada Sabtu (29/8/2026) pagi. Majelis kajian rutin ba’da Sholat Subuh hingga Syuruq menghadirkan pemateri Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag., yang menyampaikan kajian mendalam bertajuk “Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam Adalah Idola Terbaik Bagi Umat Manusia”.
Mengawali kajiannya, Ustaz Suhadi mengajak jemaah untuk menyikapi perbedaan pendapat seputar memperingati Maulid Nabi secara bijak dan berilmu. “Perdebatan yang ada selama ini umumnya bersumber dari perbedaan persepsi semata,” kata Ustaz Suhadi.
Ia mengulas dari dari beberapa sudut:
- Makna Bahasa: Maulid merujuk pada hari atau peristiwa kelahiran, sedangkan Maulud merujuk pada sosok yang dilahirkan, yakni Nabi Muhammad saw.
- Ranah Hukum: Peringatan Maulid bukan ibadah mahdhah (khusus) yang tata caranya baku seperti salat, melainkan masuk ke ranah ibadah umum.
- Syarat Kebolehan: Selama diisi dengan mengkaji sejarah perjuangan (Sirah Nabawiyah) serta meneladani akhlak Rasulullah tanpa diiringi perbuatan syirik atau kemaksiatan, maka peringatan tersebut sah dan diperbolehkan.
Nabi Muhammad Teladan Terbaik
Ustaz Suhadi menekankan penafsiran Surah Al-Ahzab Ayat 21, di mana Allah Swt menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang sempurna bagi siapa saja yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari akhirat. Alasannya adalah:
- Akhlak Rasulullah Adalah Al-Qur’an: Mengutip hadis riwayat Ahmad dari Sayyidah Aisyah RA, seluruh adab dan perilaku Nabi Muhammad saw merupakan cerminan langsung dari nilai-nilai Al-Qur’an.
- Pengakuan Dunia Non-Muslim: Keagungan Nabi Muhammad saw juga diakui secara objektif oleh sejarawan non-Muslim. Dalam buku ternama karya Michael H. Hart (seorang astrofisikawan Amerika Serikat), Nabi Muhammad saw ditempatkan di peringkat pertama sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia.
Di sisi lain, Ustaz Suhadi mengingatkan pentingnya menjaga hati agar tidak salah memilih tokoh idola. Beliau mengutip hadis shahih ketika seorang sahabat bertanya mengenai kiamat, dan Rasulullah saw bersabda: “Anta ma’a man ahbabta” (Engkau akan dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai).
Siapa pun yang mengidolakan Rasulullah, para sahabat, dan ulama saleh akan dikumpulkan bersama mereka di surga. Sebaliknya, mengidolakan figur pemersulit kebaikan atau pelaku maksiat membawa ancaman kerugian besar di hari kiamat kelak.
Agar amalan tetap berada pada jalur syariat yang lurus, Ustaz Suhadi memberikan contoh praktis hal-hal yang wajib dihindari:
Penyimpangan Menjurus Syirik:
- Meminta Hajat pada Ruh/Arwah: Berdoa memohon jodoh atau rezeki kepada arwah Nabi/Wali, alih-alih meminta langsung kepada Allah Swt.
- Sikap Ghuluw (Berlebihan): Memuji Nabi hingga menyetarakan atau melebihi kedudukan Allah Swt.
- Mengeramatkan Benda Pusaka: Keyakinan mistik bahwa peninggalan memiliki kekuatan gaib mandiri untuk menolak bala.
- Keyakinan Kehadiran Fisik Ruh: Menyediakan kursi kosong khusus saat Mahalul Qiam karena meyakini ruh Nabi hadir secara fisik di ruangan.
Perilaku Menjurus Maksiat & Bid’ah:
- Perbauran Bebas & Hiburan Erotis (Ikhtilat): Acara berbaur tanpa batas serta tarian/musik yang melalaikan ibadah wajib.
- Pemborosan Ekstrem (Tabdzir): Rebutan gunungan makanan secara anarkis hingga terbuang sia-sia, ketimbang dibagikan ke fakir miskin.
- Membuat Ritual Baru: Mewajibkan salat atau puasa tata cara baru tanpa dalil sahih.
Kajian diakhiri dengan imbauan agar jemaah senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari, seperti salat berjemaah, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Sebab eksistensi serta kedamaian suatu bangsa sangat tergantung pada terpeliharanya akhlak mulia. || chusnun
