Menyandera atau Tersandera oleh Gadget?

Menyandera atau Tersandera oleh Gadget?
*) Oleh : Hanif Asyhar, S. Hi., M. Pd
Praktisi Parenting Nasional dan Konsultan Pengembang Pendidikan.
www.majelistabligh.id -

Di era disrupsi digital, teknologi telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara radikal. Gadget, yang awalnya diciptakan sebagai alat (wasilah) untuk mempermudah produktivitas, kini bergeser menjadi pusat orientasi hidup.

Secara akademis, fenomena ini dikaji dalam teori determinisme teknologi yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan, di mana teknologi tidak lagi bersifat netral, melainkan aktif membentuk cara berpikir, budaya, dan perilaku.

Ketika gawai mengontrol kesadaran, manusia terjebak dalam apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulakra, sebuah kondisi di mana realitas semu di media sosial dianggap lebih nyata dan menarik daripada realitas sosial di dunia nyata. Pertanyaan eksistensialnya bagi kita hari ini adalah, apakah kita yang mengendalikan gadget, atau justru kita yang sedang disandera olehnya?

Ketergantungan ini bukan tanpa sengaja. Secara psikologis, algoritma media sosial dirancang menggunakan prinsip operant conditioning dalam teori perilaku B. F. Skinner. Fitur scroll tanpa batas (infinite scroll)  dan notifikasi konstan memberikan variabel reward berupa stimulasi dopamin instan yang memicu kecanduan. Akibatnya, manusia modern tersandera dalam ruang digital yang mengikis kemampuan interaksi sosial yang mendalam.

Dalam perspektif Islam, fenomena tersandera oleh gadget ini merupakan bentuk kelalaian modern (al-ghaflah). Al-Qur’an secara tegas mengingatkan dampak buruk hilangnya kontrol diri atas waktu dalam Surah Al-Ashar ayat 1-3.

وَالْعَصْرِۙ ۝١اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

Artinya, demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (QS. Al-Ashar, ayat: 1-3).

Dalam Surat Al-An’am ayat 32 Allah SWT juga memperingatkan:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۝٣٢

Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?. (QS. Al-An’am, ayat:32).

Ayat ini sangat relevan dengan panggung sandiwara dunia maya yang kerap menipu. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadits riwayat Tirmidzi. “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Untuk membalikkan posisi dari tersandera menjadi menyandera atau mengendalikan gadget, kita harus mengintegrasikan prinsip muraqabah, yakni kesadaran penuh bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap ketukan jari dan pandangan mata kita.

Langkap spiritual ini sejalan dengan konsep literasi digital kritis, di mana pengguna tidak hanya cakap mengoperasikan alat, tetapi juga kritis mengevaluasi dampak etis dan moral dari konsumsi digital mereka.

Oleh karena itu, gadget harus dikembalikan fungsinya sebagai budak yang tunduk pada kemaslahatan (khadim), bukan majikan yang mendikte arah hidup. Ketika gawai digenggam dengan dzikir serta kesadaran ilmiah, fungsinya bertransformasi menjadi sarana thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dan penyebar kebaikan.

Maka, menolak teknologi merupakan sebuah kemunduran, namun menyerahkan diri sepenuhnya padanya adalah kehancuran spiritual. Menjadi Muslim yang bijak di era digital berarti mengambil alih kendali atas jemari dan perhatian kita.

Mari sandera gadget kita untuk menjadi saksi kebaikan di akhirat, bukan membiarkannya memenjarakan jiwa kita dari Sang Pencipta. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search