Suasana haru menyelimuti halaman Masjid Manarul Islam, Bangil, Pasuruan, pada Rabu (27/5/2026) pagi. Ribuan jemaah memadati area masjid untuk menunaikan Salat Iduladha 1447 Hijriah dengan penuh khusyuk.
Pagi itu, cuaca sempat diwarnai rintik hujan selepas Subuh. Namun, menjelang pelaksanaan salat Iduladha, langit perlahan cerah. Udara terasa sejuk dan nyaman, menambah kekhidmatan ibadah di hari raya kurban.
Di tengah lautan jemaah, khatib salat Iduladha, Afifun Nidlom, membuka Khotbah dengan nuansa emosional. Ia mengajak seluruh jemaah menundukkan kepala dan mendoakan para kiai serta asatidz yang telah wafat mendahului.
Dengan suara bergetar, ia mengenang masa-masa mondok di pesantren yang berada di lingkungan masjid tersebut. “Saya memiliki kenangan mendalam di tempat ini. Tiga puluh satu tahun lalu saya pernah belajar di pesantren ini,” ungkapnya di hadapan jemaah.
Satu per satu nama para ulama dan guru disebutkan. Suasana mendadak hening ketika doa dipanjatkan untuk para pendahulu yang telah mengabdikan hidupnya bagi dakwah dan pendidikan umat.
Haji Adalah Undangan Istimewa dari Allah
Setelah memimpin doa, khotbah berlanjut pada pembahasan hikmah ibadah haji dan kurban. Khatib menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat kesempatan berhaji sejatinya adalah tamu pilihan Allah Swt.

Ia mengutip hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan kemuliaan para tamu Allah.
“Orang yang berhaji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, niscaya diijabah doanya. Jika mereka memohon ampun, niscaya memperoleh pengampunan,” tuturnya.
Khatib juga mengajak jemaah untuk mendoakan seluruh jemaah haji Indonesia yang sedang menjalani puncak ibadah haji di Tanah Suci. Menurutnya, pada 10 Dzulhijjah para jemaah tengah menjalani fase terberat rangkaian ibadah, mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melontar jumrah Aqabah.
Doa keselamatan dan kemabruran pun dipanjatkan bersama oleh seluruh jemaah yang hadir.
Kurban dan Kemanusiaan Harus Tetap Hidup
Dalam khotbahnya, khatib juga menyoroti makna kemanusiaan sejati dalam ibadah kurban. Penyembelihan hewan kurban, menurutnya, bukan sekadar ritual tahunan, tetapi simbol pengendalian nafsu hewani dalam diri manusia.
Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih memperturutkan hawa nafsu hingga hati nurani menjadi tumpul.
“Salah satu pesan penting Iduladha ialah agar kita melihat hidup ini bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati,” jelasnya.
Ia kemudian membacakan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 46 yang menegaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah pada mata, melainkan pada hati yang berada di dalam dada. Pesan itu mengajak jemaah agar tetap menjaga sisi kemanusiaan, empati, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan modern yang kian materialistis.
Keluarga Ibrahim, Teladan Keteguhan dan Keikhlasan
Khotbah Iduladha tersebut juga menyinggung keteladanan keluarga Nabi Ibrahim a.s. sebagai gambaran keluarga yang kokoh menghadapi ujian kehidupan. Khatib menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mengajarkan tauhid yang murni, ibadah yang lurus, dan keikhlasan dalam berkurban. Keteladanan terbesar tampak ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s.
Dengan penuh keikhlasan, Nabi Ismail menerima perintah tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Tidak hanya itu, khatib juga menyoroti sosok Siti Hajar sebagai perempuan tangguh yang diuji di padang tandus bersama putranya yang masih kecil.
Perjuangan Siti Hajar berlari mencari air antara Bukit Shafa dan Marwah kemudian diabadikan dalam ibadah sa’i. Dari pengorbanan itulah lahir mukjizat air zamzam yang terus mengalir hingga kini.
“Keluarga Ibrahim adalah keluarga yang tidak rapuh karena penderitaan, tetapi semakin kuat dengan ujian,” ujar khatib.
Kurban Mengajarkan Amanah Harta
Pada bagian akhir Khotbah, khatib menekankan pentingnya amanah dalam mengelola harta. Ia menjelaskan bahwa Islam membolehkan seseorang berutang untuk berkurban selama memiliki kemampuan membayar. Sebaliknya, berutang untuk kurban tidak diperbolehkan bagi mereka yang belum mampu melunasinya.
Menurutnya, Allah menyandingkan ibadah kurban dengan salat karena keduanya mengajarkan kesadaran sebagai hamba sekaligus kedisiplinan mengatur kehidupan. “Kurban mengajarkan pentingnya mengatur harta agar ketika 10 Zulhijah tiba, seorang muslim mampu menyisihkan rezekinya untuk beribadah,” pungkasnya. || Ana Aziza
