Muhammadiyah Australia College, dari Kauman ke Benua Kanguru

Gedung Muhammadiyah Australia College. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di suatu pagi yang dingin di Melton, di wilayah metropolitan Melbourne, negara bagian Victoria, Australia, seorang ibu asal Indonesia menatap anaknya berlari memasuki gerbang sebuah sekolah. Di atas pintu gerbang itu tertulis: Muhammadiyah Australia College (MAC).

Matanya berkaca-kaca. Bukan karena angin musim dingin Victoria yang menusuk tulang, melainkan karena ia tahu betapa panjang dan berlikunya jalan untuk sampai ke detik itu.

Lebih dari satu abad sebelumnya, di sebuah gang sempit di Kauman, Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan berdiri di depan sebuah bilik kecil berisi beberapa murid. Dengan kapur dan papan tulis sederhana, ia menanamkan sebuah gagasan revolusioner bahwa pendidikan adalah jalan membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan.

Dari bilik kecil itulah Muhammadiyah lahir, dan dari sanalah jutaan sekolah, madrasah, dan universitas kelak tumbuh di seluruh penjuru Nusantara. Namun, mimpi Muhammadiyah tak pernah benar-benar berhenti di garis batas negara.

Mimpi yang Terasa Mustahil

Gagasan mendirikan sekolah Muhammadiyah di Australia bukan lahir dalam semalam. Ia adalah percakapan-percakapan panjang di meja rapat, kajian demi kajian, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.

Tantangannya bukan kepalang, karena regulasi pendidikan Australia yang ketat, biaya pendirian yang fantastis, perbedaan sistem kurikulum, hingga keraguan dari berbagai pihak. “Untuk apa jauh-jauh ke Australia?” begitu pertanyaan yang kerap terdengar.

Tapi para pengurus Muhammadiyah yang terlibat dalam proses ini memiliki jawaban yang sederhana namun tegas, bahwa di mana ada anak Indonesia yang butuh pendidikan berkemajuan, di situlah Muhammadiyah harus hadir.

Ribuan keluarga Muslim Indonesia tinggal di Australia, dan mereka mendambakan sebuah ruang pendidikan yang mengakomodasi identitas keislaman sekaligus membuka pintu menuju masa depan global.

Proses perizinan berjalan bertahun-tahun. Berkas-berkas tebal bolak-balik antara Jakarta dan Melbourne. Tim kecil bekerja tanpa banyak sorotan, mengetuk pintu demi pintu, meyakinkan otoritas pendidikan setempat bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan pencerahan yang telah teruji lebih dari satu abad.

MAC Hari Ini: Buah dari Kesabaran

Setelah empat tahun bergelut padaperizinan, pada 21 Desember 2021 Muhammadiyah Australia College mendapatkan izin operasional dari Pemerintah Australia melalui Victorian Registration and Qualifications Authority (VRQA).

MAC akhirnya resmi berdiri dan menerima murid pertamanya, suasana haru menyelimuti. Guru-guru pertama yang direkrut bukan sekadar pengajar; mereka adalah pionir yang rela meninggalkan zona nyaman demi sebuah misi. Kelas-kelas awal mungkin belum sempurna, tapi di sanalah semangat al-Ma’un menemukan bentuknya.

Kini, MAC telah menjadi rumah belajar bagi anak-anak diaspora Indonesia di Australia. Kurikulumnya memadukan standar pendidikan Australia dengan nilai-nilai keislaman moderat yang menjadi ciri khas Muhammadiyah. Anak-anak belajar matematika dan sains dalam bahasa Inggris, namun juga mengenal tadarus, akhlak, dan sejarah peradaban Islam. Mereka tumbuh sebagai pribadi yang berakar, namun tak takut menjangkau langit. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search